Korban Koperasi Swadarma BNI Datang Bawa Tikar dan Rice Cooker, Siap Menginap di Kantor BNI

Puluhan korban dugaan penggelapan dana Koperasi Swadarma BNI Pematangsiantar kembali menggelar demonstrasi di depan Kantor Bank BNI Cabang Pematangsiantar, Jalan Merdeka, Selasa (23/6/2026). (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID - Puluhan korban dugaan penggelapan dana Koperasi Swadarma BNI Pematangsiantar kembali menggelar demonstrasi di depan Kantor Bank BNI Cabang Pematangsiantar, Jalan Merdeka, Selasa (23/6/2026).
Kali ini, seluruh korban membawa perlengkapan tidur dan logistik lengkap, mulai dari tikar, piring, hingga alat penanak nasi (rice cooker) saat aksi.
Mereka berencana akan menginap di lokasi tersebut hingga satu minggu ke depan atau sampai tuntutan mereka dipenuhi.
Koordinator aksi sekaligus perwakilan korban, Hotna Rumasi Lumban Toruan, menyebutkan aksi yang mereka lakukan hari ini karena pihak BNI belum melaksanakan putusan berkekuatan hukum tetap (inkrah) dari Mahkamah Agung (MA).
"Kami kembali melakukan demo karena keputusan yang inkrah belum juga dijalankan oleh pihak pengadilan. Inilah akibatnya jika pihak BNI tidak mau ada kesepakatan dengan kami," ujar Hotna.
Hotna mengatakan, seharusnya kerugian sebesar Rp4,2 miliar sudah dibayarkan pihak BNI tiga tahun lalu. Namun, sampai saat ini belum dilaksanakan. Hotna bahkan menyebutkan tuntutan materi dari mereka akan bertambah menjadi Rp7 miliar.
"Tuntutan kami bukan cuma Rp4,2 miliar lagi, melainkan Rp7 miliar. Kenapa? Karena tiga tahun yang lalu kami sudah menang di pengadilan tapi tidak dibayarkan oleh pihak bank. Maka uang Rp4,2 miliar kami kalikan bunga dan inflasi selama 3 tahun, ditambah biaya akomodasi, biaya sidang, dan biaya demo selama ini. Total hitungannya menjadi Rp7 miliar," tutur Hotna.
Hotna juga memastikan mereka akan menginap di depan Kantor Bank BNI Cabang Pematangsiantar sampai tuntutan mereka dipenuhi.
"Kami akan melakukan aksi demo ini bukan hanya sampai satu minggu, tapi sampai uang kami dikembalikan utuh," tuturnya.
Para korban mengaku sudah menutup pintu dialog dengan pihak bank. Menurutnya, masalah ini sudah berada di level korporasi pusat dan penegakan hukum. Bukan lagi sekadar mediasi tingkat cabang yang dinilai kerap menemui jalan buntu.
"Kami tidak membutuhkan lagi pimpinan cabang turun. Aksi ini kami lakukan agar seluruh masyarakat Indonesia bisa mengerti dan melihat betapa zalimnya pimpinan BNI karena putusan ini sebenarnya sudah inkrah. Itulah yang kami inginkan, hak kami harus dikembalikan, uang kami harus tetap kembali," ucapnya.
Hingga berita ini diterbitkan, akibat demonstrasi arus lalu lintas tampak melambat. Sedangkan pihak BNI Cabang Pematangsiantar belum memberikan pernyataan resmi hingga berita ini diterbitkan. (hm20)
BERITA TERPOPULER























