Cuaca Ekstrem Ancam Siantar, BPBD Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Kepala BPBD Kota Pematangsiantar, Dedi Harahap. (foto: Hamzah/Mistar.id)
Pematangsiantar, MISTAR.ID - Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pematangsiantar. BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, dan dampak cuaca ekstrem lainnya.
Kepala BPBD Kota Pematangsiantar, Dedi Harahap, menyampaikan agar masyarakat tidak hanya menunggu bencana terjadi. Namun, kesiapsiagaan bisa dimulai dari rumah dengan langkah sederhana sehingga dapat mengurangi risiko dan melindungi keselamatan keluarga.
"Waspadalah akan bencana Hidrometeorologi (bahaya yang disebabkan oleh cuaca ekstrem). Ayok jaga kesehatan dan kebersihan diri dan keluarga, siapkan bahan obat-obatan dasar, pantau informasi cuaca secara berkala, laporkan setiap kejadian bencana," ujar Dedi perihal beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat, Selasa (1/9/2026).
BPBD juga menegaskan bahwa menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya tugas pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Dengan kepedulian, kesiapsiagaan, dan saling mengingatkan, risiko bencana dapat ditekan.
"Untuk cuaca ekstrem seluruh wilayah Kota Pematangsiantar berpotensi berisiko, sehingga masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan," ujarnya lagi.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca panas pada siang hari dan hujan saat sore–malam hari di Sumatera Utara (Sumut) masih berlanjut hingga 7 September 2026.
Prediksi cuaca tersebut disampaikan Ketua Tim Sistem Peringatan Dini Balai Besar MKG (BBMKG) Wilayah I Medan, Martha Rosefina Manurung, dalam keterangan pers yang diterima Mistar, Senin (31/8/2026).
"Prospek cuaca mingguan di Sumut pada 31 Agustus sampai dengan 7 September 2026 diperkirakan masih cerah berawan pada pagi–siang hari, pada sore–malam harinya berpotensi hujan," katanya.
Ia menjelaskan, cuaca tersebut dipicu oleh konvergensi massa udara akibat belokan angin di Samudra Hindia barat Sumatera, aktivitas gelombang atmosfer, anomali suhu muka laut yang hangat, serta indeks labilitas udara yang mendukung pertumbuhan awan konvektif di Sumut.
"Penguatan monsun Australia mengurangi penutupan awan pada pagi hingga siang hari, peningkatan suhu udara dan memicu pemanasan permukaan optimal. Kondisi ini meningkatkan aktivitas awan konvektif yang berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat (lokal) pada sore–malam hari di sejumlah wilayah Sumut," tambah Martha. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Pedagang Keluhkan Kondisi Pasar Horas ke DPRD: Semrawut, Pencurian Marak hingga Kebersihan























