Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Alih Fungsi Kebun Teh ke Sawit Picu Krisis Air di Pematang Sidamanik, 100 Ha Sawah Terancam Gagal Ditanami

Mistar.idSenin, 24 November 2025 pukul 20.06 WIB
alih_fungsi_kebun_teh_ke_sawit_picu_krisis_air_di_pematang_sidamanik_100_ha_sawah_terancam_gagal_ditanami

Areal kebun PTPN IV di Kecamatan Pematang Sidamanik yang sudah ditanami sawit.(foto: Indra/mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID

Dalam setahun terakhir, petani di Nagori Pematang Sidamanik, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, menghadapi krisis air yang semakin parah. Irigasi yang selama puluhan tahun menghidupi ratusan hektare sawah kini tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar pertanian.

Masalah ini diduga kuat dipicu oleh alih fungsi lahan dari tanaman teh menjadi sawit. Debit air menurun drastis, membuat sistem pembagian air antarpenggarap tak lagi mencukupi. Dampak paling terasa sejak April lalu ketika umbul-umbul, sumber air utama setempat mulai mengering.

“Air tidak terbagi lagi ke persawahan. Pembagian sudah tidak cukup. Umbul juga mulai mengering. Bahkan air konsumsi masyarakat mulai bermasalah,” ujar seorang warga saat ditemui Tim Mistar di sebuah warung, Senin (24/11/2025).

Kondisi terburuk dialami petani di Dusun Pematang Tiga Urung, Parmahanan, dan Sinaman 1. Dari total sekitar 100 hektare sawah, irigasi kini hanya mampu mengaliri sekitar 15 hektare.

“Tidak berani lagi kami menanam padi. Air tak ada. Sawah di ambang mati,” keluh sejumlah petani.

Damanik, seorang petani paruh baya, menuturkan bahwa warga kini harus mengatur air dengan sistem giliran berdasarkan waktu dan blok sawah.

“Kami tidak bisa tidur. Air kurang terus. Menjaga air malah sering bertengkar. Ini bisa jadi konflik sosial,” ujarnya.

Tinjauan lapangan memperlihatkan tiga umbul di Nagori Pematang Sidamanik mulai mengering. Kincir-kincir air tradisional yang dulunya mengaliri sawah kini tidak lagi berfungsi.

Warga menyebut penurunan debit air mulai dirasakan sejak lahan PTPN yang sebelumnya merupakan kebun teh mulai diratakan untuk penanaman sawit.

“Mulai diratakan tempat untuk sawit itu, di situlah terasa debit air berkurang. Kami harus jaga air malam pun tak bisa istirahat,” tutur seorang petani lainnya.

Di Nagori Ambarisan, warga menyebut kini hanya seperempat lahan PTPN yang belum ditanami sawit.

Menurut warga, perubahan tutupan lahan mengubah pola serapan air. Saat musim hujan, air cepat menggenang karena banyak cekungan baru. Namun setelah beberapa bulan, air tidak lagi meresap ke mata air seperti Bah Biak dan Bah Butong.

“Ketika hujan Desember datang, lihat saja, pasti banjir. Simantin 3 itu banjir. Tapi setelah itu kering total,” ungkap warga lainnya.

Krisis air ini membuat banyak petani gagal bertanam dan kehilangan keberanian untuk kembali menanam padi karena risiko terlalu besar. Situasi ini dinilai berpotensi mengancam ketahanan pangan lokal jika tidak segera ditangani.

Tidak hanya kekeringan, kawasan kebun teh di sekitar juga mengalami banjir ketika hujan deras. Berdasarkan laporan MISTAR.ID sebelumnya, pada Jumat (14/11/2025), kawasan kebun teh di Afdeling III, Nagori Simantin, Kecamatan Pematang Sidamanik, tergenang air deras di area yang sedang dalam proses konversi ke sawit oleh PTPN IV.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN