TikTok Diminta Ubah Fitur yang Buat Pengguna Kecanduan

TikTok. (Foto: Drew Angerer/Getty Images)
Jakarta, MISTAR.ID
Fitur bergulir video tanpa batas menjadi salah satu keunggulan utama TikTok yang membuat penggunanya betah berlama-lama menghabiskan waktu setiap hari. Namun, fitur tersebut kini mendapat sorotan karena dinilai berpotensi menimbulkan kecanduan, sehingga TikTok diminta melakukan perubahan.
Komisi Eropa menuding TikTok secara sadar merancang aplikasinya dengan pola yang dapat membuat pengguna sulit berhenti. Beberapa fitur yang disorot antara lain scroll tanpa henti, pemutaran otomatis konten, notifikasi dorong, serta sistem rekomendasi video.
Dalam temuan awal untuk menilai kepatuhan TikTok terhadap Digital Services Act (DSA), Komisi Eropa menyatakan bahwa platform video pendek itu belum cukup mengevaluasi risiko dari keputusan desain aplikasinya. Dampak tersebut dinilai bisa membahayakan pengguna, khususnya anak-anak dan kelompok dewasa yang rentan.
Komisi Eropa mencontohkan bahwa dengan terus menyuguhkan konten baru sebagai bentuk “imbalan”, sejumlah fitur TikTok mendorong pengguna untuk terus menggulir layar dan membawa otak ke kondisi bekerja secara otomatis. Hal itu disampaikan Komisi Eropa dalam pernyataan resminya yang dikutip dari TechCrunch, Minggu (8/2/2026).
“Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan pola desain seperti ini berpotensi memicu perilaku kompulsif dan melemahkan kemampuan pengendalian diri pengguna,” kata perwakilan Komisi Eropa dalam keterangan tertulisnya
Karena itu, Komisi Eropa meminta TikTok melakukan penyesuaian mendasar pada desain antarmuka aplikasinya. Langkah yang disarankan meliputi penonaktifan fitur scroll tanpa akhir, penerapan pembatasan waktu penggunaan, serta perubahan pada sistem rekomendasi konten.
Meski TikTok telah menyediakan fitur kontrol orang tua dan pengaturan batas waktu layar, Komisi Eropa menilai langkah tersebut belum cukup untuk menekan risiko kecanduan yang ditimbulkan oleh desain platform tersebut.
Komisi Eropa juga membuka ruang bagi TikTok untuk menanggapi dan membantah temuan awal tersebut.
Menanggapi masalah ini, perusahaan milik ByteDance itu menyatakan akan menggunakan berbagai cara untuk menolak kesimpulan tersebut.
“Temuan awal Komisi Eropa memberikan gambaran yang keliru dan tidak berdasar mengenai platform kami,” ujar juru bicara TikTok. (hm20)























