Tiga Alasan Uni Eropa Wajibkan Smartphone Pakai Baterai Lepas Pasang

Ilustrasi ponsel dengan baterainya (Foto: iStock)
London, MISTAR.ID
Uni Eropa tengah menyiapkan aturan baru yang mewajibkan produsen smartphone dan perangkat elektronik lain menggunakan baterai yang lebih mudah dilepas dan diganti. Kebijakan ini merupakan bagian dari regulasi besar yang sudah disusun sejak 2023 dan akan mulai berlaku efektif pada 18 Februari 2027.
Aturan tersebut diperkirakan membawa perubahan besar di industri teknologi. Namun, ini bukan berarti semua ponsel akan kembali memakai desain lama dengan baterai yang bisa dicopot langsung tanpa alat seperti ponsel generasi terdahulu.
Ada tiga alasan utama di balik kebijakan ini. Pertama, untuk mengatasi masalah penurunan performa baterai yang selama ini menjadi keluhan paling umum pengguna smartphone. Kedua, guna menekan jumlah limbah elektronik yang terus meningkat.
Ketiga, mendukung kemudahan perbaikan perangkat sebagai bagian dari kebijakan Right to Repair yang lebih luas.
Sebenarnya, konsep baterai lepas pasang bukan hal baru. Sistem ini pernah menjadi standar sebelum era smartphone modern berkembang. Perubahan mulai terjadi ketika Apple lewat iPhone mempopulerkan desain bodi tertutup dengan baterai tanam.
Baca Juga: Uni Eropa Tetapkan IRGC sebagai Organisasi Teroris: Sorotan dan Fakta di Balik Ketegangan Barat–Iran
Meski begitu, regulasi baru ini tidak otomatis mengharuskan ponsel kembali ke model casing belakang yang bisa dibuka begitu saja. Aturannya lebih menekankan bahwa baterai harus bisa diganti tanpa alat khusus, atau jika membutuhkan alat tertentu, produsen wajib menyediakannya secara gratis di dalam kemasan.
Artinya, produsen masih diperbolehkan memakai sekrup atau sistem pengunci tertentu, selama pengguna tetap dapat membongkar perangkat secara mandiri tanpa hambatan berlebihan.
Kebijakan ini juga tidak hanya berlaku untuk smartphone dan tablet. Perangkat lain seperti kacamata pintar hingga sejumlah gadget portabel lain juga termasuk dalam cakupan aturan tersebut. Bahkan, konsol seperti Nintendo Switch 2 disebut sedang dikembangkan dengan mempertimbangkan kemudahan penggantian baterai.
Mengutip Tech Radar, Selasa (28/4/2026), meski aturan ini hanya berlaku di kawasan European Union, dampaknya diperkirakan akan terasa secara global karena sistem produksi massal. Situasi serupa sebelumnya terjadi pada kebijakan port USB-C yang akhirnya membuat Apple mengubah desain iPhone 15 di seluruh dunia.
Namun, regulasi ini masih memiliki pengecualian. Perangkat yang baterainya mampu mempertahankan minimal 80 persen kapasitas setelah 1.000 siklus pengisian daya bisa dibebaskan dari kewajiban tersebut.
Apple disebut berpotensi masuk kategori itu karena lini iPhone 15 yang dirilis sejak 2023 diklaim telah memenuhi standar tersebut.
Di kalangan konsumen, aturan ini mendapat respons positif. Banyak pengguna di forum Reddit menilai kebijakan tersebut lebih berpihak pada pengguna, mengingat baterai hampir selalu menjadi komponen pertama yang mengalami penurunan performa pada sebuah ponsel.
Salah satu perangkat yang diperkirakan akan menjadi generasi awal yang wajib mengikuti aturan ini adalah Samsung Galaxy S27 saat regulasi mulai berlaku penuh pada Februari 2027. (hm20)



















