Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Pakar IT Indonesia Buat Platform Deteksi Dini Penipuan Digital Berbasis AI

Mistar.idKamis, 19 Februari 2026 pukul 10.34 WIB
pakar_it_indonesia_buat_platform_deteksi_dini_penipuan_digital_berbasis_ai

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Penipuan digital yang semakin marak mendorong lahirnya platform deteksi dini berbasis web gratis bernama tanya.fadli.id untuk membantu masyarakat mengenali potensi penipuan secara cepat. Platform ini dikembangkan oleh pakar IT sekaligus Dosen Teknik Informatika Universitas Pasundan, Miftahul Fadli Muttaqin.

Melalui platform tersebut, pengguna dapat memeriksa indikasi penipuan dengan mengunggah tangkapan layar, menyalin percakapan mencurigakan, atau menjelaskan kronologi kejadian yang dialami. Sistem kecerdasan buatan (AI) kemudian akan menganalisis pola bahasa, memeriksa tautan berisiko, serta mencocokkan data dengan database modus penipuan terbaru.

Hasil analisis ditampilkan dalam bentuk skor risiko antara 0 hingga 100, disertai rekomendasi langkah yang dapat dilakukan pengguna. Fadli mengatakan platform ini dirancang sebagai alat bantu bagi masyarakat sebelum mengambil keputusan penting.

"Aplikasi ini kami rancang sebagai alat bantu sebelum seseorang mengambil keputusan. Kami ingin masyarakat memiliki referensi tambahan agar tidak bertindak dalam kondisi panik," ujar Fadli dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026) dilansir dari CNNIndonesia.

Sejak dirilis pada 1 Januari 2026, platform tersebut telah mencatat ribuan kunjungan setiap hari. Tingginya angka penggunaan menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap solusi perlindungan digital yang praktis dan mudah diakses.

Dari sisi keamanan, Fadli memastikan perlindungan data menjadi prioritas utama. Secara default, sistem tidak mempublikasikan data pengguna. Apabila pengguna memilih untuk membagikan pengalaman, sistem akan secara otomatis menyensor informasi sensitif.

"Kami tidak menyimpan data pribadi tanpa izin. Prinsipnya, teknologi harus membantu melindungi, bukan menambah risiko," katanya.

Penipuan digital saat ini menjadi ancaman serius seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Modus yang digunakan pelaku semakin beragam, mulai dari penyamaran sebagai pihak bank, kurir pengiriman, hingga penawaran investasi dengan janji keuntungan besar dalam waktu singkat.

Pelaku juga kerap memanfaatkan teknik rekayasa sosial (social engineering) untuk memengaruhi korban. Pesan penipuan biasanya dibuat menyerupai komunikasi resmi dengan logo perusahaan, bahasa formal, serta nada mendesak sehingga sulit dibedakan dari pesan asli.

Dampak dari penipuan digital tidak hanya berupa kerugian finansial, tetapi juga kebocoran data pribadi dan pengambilalihan akun digital. Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sepanjang November 2024 hingga Desember 2025 terdapat 411 ribu pengaduan penipuan digital dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun.

Dari jumlah tersebut, hanya sekitar Rp383,6 miliar atau kurang dari 5 persen dana yang berhasil diselamatkan. Sekitar 85 persen korban diketahui baru melapor lebih dari 12 jam setelah kejadian, ketika dana sudah sulit dilacak. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN