Google Uji Coba Pusat Data di Luar Angkasa, Kirim Chip AI ke Orbit Lewat Project Suncatcher

Satelit purwarupa Project Suncatcher dengan 4x TPU 8t Google yang terlihat jelas, dilengkapi pipa penghantar panas dan radiator sebagai sistem pendingin di ruang hampa, panel surya yang menangkap energi matahari 8x lebih besar, serta roket SpaceX Transporter-18. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (25/9/2026) – Google akan meluncurkan satelit purwarupa pekan depan untuk menguji chip kecerdasan buatan (AI) di orbit melalui Project Suncatcher. Eksperimen ini menjadi langkah awal pengembangan infrastruktur komputasi AI di luar angkasa.
Proyek tersebut bertujuan memanfaatkan paparan sinar Matahari sebagai sumber energi untuk komputasi AI yang boros daya, sekaligus mengatasi keterbatasan pasokan listrik di darat.
Mengutip Reuters, Kamis (25/9/2026), satelit itu dijadwalkan ikut dalam peluncuran Transporter-18 milik SpaceX bersama sejumlah muatan lain, termasuk milik Planet Labs.
Misi ini akan menguji ketahanan perangkat keras AI Google terhadap getaran peluncuran, radiasi, serta suhu ekstrem di orbit rendah Bumi (LEO).Setelah mengorbit, satelit yang membawa Tensor Processing Unit (TPU) milik Google tersebut akan diuji untuk memastikan chip dapat beroperasi stabil dan andal di luar angkasa.
Uji coba ini tidak lepas dari tantangan. Radiasi luar angkasa dapat mengganggu perangkat elektronik dan memicu kesalahan data, termasuk fenomena bit flip.
Google menyebut sebelumnya telah menguji TPU saat menjalankan beban kerja AI di University of California, Davis. Namun, pengujian langsung di orbit tetap dibutuhkan untuk memahami kinerja perangkat dalam kondisi sebenarnya.
Tantangan lain adalah sistem pendinginan. Pendingin berbasis aliran udara tidak dapat bekerja di ruang hampa, sehingga Google menggunakan kombinasi pipa penghantar panas dan radiator untuk membuang panas dari TPU.
Sejumlah pakar menilai konsep ini masih membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum komersial. Kendalanya meliputi tingginya biaya peluncuran, tantangan rekayasa, serta keterbatasan kapasitas produksi satelit.
Google menegaskan misi perdana Project Suncatcher dirancang untuk mengumpulkan data selama di orbit dan mengidentifikasi potensi titik kegagalan, bukan untuk langsung mengoperasikan pusat data luar angkasa.
Perusahaan menargetkan meluncurkan dua satelit berikutnya pada 2027 untuk menguji koneksi laser berkecepatan tinggi yang dibutuhkan untuk menghubungkan klaster komputasi di masa depan.
Apa itu Project Suncatcher?Google pertama kali mengumumkan proyek ini pada November 2025. Project Suncatcher merupakan riset jangka panjang yang mengeksplorasi luar angkasa sebagai lokasi infrastruktur pembelajaran mesin atau AI yang dapat dikembangkan secara fleksibel.
Menurut Google, satelit di orbit rendah Bumi dapat memperoleh paparan sinar Matahari hampir terus-menerus dan menghasilkan energi surya hingga delapan kali lebih besar dibanding sistem di Bumi. Beberapa konstelasi satelit nantinya dapat dihubungkan untuk menangani beban kerja AI yang lebih besar langsung dari orbit.
Google menyebut tujuan proyek ini untuk memastikan manfaat AI dapat dirasakan semua orang.
Perlombaan Pusat Data OrbitalKonsep pusat data orbital menarik perhatian raksasa teknologi seiring meningkatnya kebutuhan listrik dan air untuk mendinginkan server di Bumi. Elon Musk dan Jeff Bezos sebelumnya juga berambisi membangun pusat data AI di luar angkasa.
Perusahaan antariksa milik Bezos, Blue Origin, dilaporkan tengah mengembangkan teknologi pusat data AI orbital. Sementara SpaceX milik Elon Musk berencana menggunakan versi terbaru satelit Starlink untuk menampung komputasi AI.
Teknologi tersebut diusulkan sebagai bagian dari penawaran saham yang dapat menilai perusahaan hingga 800 miliar dolar AS atau sekitar Rp13.336 triliun. (CNN/hm02)










































