TKA Jadi Potret Sekolah, Ketua KKKS Medan Kota: Dasar Rapor Pendidikan dan Perbaikan

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Medan Kota, Ermansyah Lubis. (foto: susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Medan Kota, Ermansyah Lubis, menilai pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) penting sebagai instrumen pemetaan kualitas pendidikan di sekolah.
Menurutnya, TKA akan menjadi potret sekolah yang nantinya digabung dengan survei lingkungan belajar (sulingjar) untuk menghasilkan rapor pendidikan.
“Ini nanti bisa jadi gambaran sekolah-sekolah untuk melihat kemampuan dan kompetensi sekolah, serta tindak lanjut apa yang harus dilakukan, apakah di literasi, numerasi dan lainnya,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Ia menyebut pelaksanaan TKA secara nasional meski dilakukan bergelombang, tetap efektif untuk membantu pemerintah memetakan kondisi sekolah. “Dengan suksesnya ini berarti pemerintah dapat memetakan sekolah-sekolah mana yang bisa dan apa yang akan di-upgrade melalui rapor pendidikan,” katanya.
Ermansyah juga menekankan proses pembelajaran menjadi kunci utama dalam keberhasilan TKA. Ia menilai soal-soal TKA sudah berbasis eksplorasi dan mengarah pada High Order Thinking Skill (HOTS) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi, sehingga menuntut perubahan pendekatan belajar.
“Kalau pembelajaran tidak dengan konsep deep learning (pembelajaran mendalam) atau kurikulum merdeka, akan sulit menjawab soal karena sudah berbasis analisis sampai mencipta,” ucapnya.
Ia menjelaskan soal diberikan stimulus untuk diamati dan dijawab oleh siswa. “Bagaimana ada dibuat lagi kaidah atau pengecoh soal gitu, sehingga soal yang baik itu pengecohnya itu sempurna. Semua seolah-olah itu jawaban. Jadi kalau menurut saya di sini, intinya adalah bagaimana guru mengelola pembelajaran agar soal-soal ini bisa dijawab,” ucapnya.
Baca Juga: Rencana TKA SD di Pematangsiantar Didukung, Pedadudik Tekankan Keadilan dan Kejelasan Tujuan
Dalam pembelajaran mendalam, sebutnya, terdapat beberapa kategori seperti mindful yang berarti berkesadaran, kemudian meaningful yang berarti bermakna serta joyful yang berarti menggembirakan.
“Kalau tidak dibuat guru dengan kontekstual teaching and learning, ini akan sulit. Karena sudah mengarah ke olimpiade soal-soal ini. Tidak hanya kalau dia di tingkat taksonomi bloom itu kan ingatan, pemahaman, dia sudah mulai dari analisis sampai mencipta. Itulah tingkat soalnya ini,” ujarnya.
Maka ke depannya, kata Ermansyah, guru-guru harus siap merancang atau mengkreasikan proses pembelajaran agar dapat dilakukan dengan pendekatan yang sudah didengung-dengungkan pemerintah saat ini.
Ermansyah menambahkan, hasil TKA nantinya dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan di sekolah, termasuk dalam penyusunan program dan penganggaran berbasis data. “Di situlah bisa kita lihat peta sekolah ini, apa yang perlu dikembangkan. Jika kepala sekolah ngeh terhadap itu, bisa dibuat anggaran untuk meningkatkan guru-gurunya,” katanya.
Ia berharap pelaksanaan TKA berjalan tanpa intervensi agar hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kemampuan siswa.
BERITA TERPOPULER
























