Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang: Sekolah Disabilitas Pertama yang Mandiri Energi dan Tangguh Bencana

Mistar.idJumat, 31 Oktober 2025 pukul 23.23 WIB
slb_negeri_pembina_aceh_tamiang_sekolah_disabilitas_pertama_yang_mandiri_energi_dan_tangguh_bencana

Proses instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mandiri berkapasitas 3,3 kWp dengan baterai 5 kWh di SLB Negeri Pembina, Aceh Tamiang. (Foto: Pertamina EP Rokan Hulu)

news_banner

Aceh Tamiang, MISTAR.ID

Di tengah lanskap Kabupaten Aceh Tamiang yang dikenal rawan banjir, SLB Negeri Pembina—satu-satunya SLB negeri di wilayah itu—telah bertransformasi menjadi pusat edukasi energi terbarukan dan ketangguhan bencana.

Program Corporate Social Responsibility (CSR) Sekolah Energi Berdikari (SEB) yang diinisiasi Pertamina tidak hanya memasang panel surya di sekolah, tetapi juga menggandeng BPBD untuk melatih siswa disabilitas menjadi agen penyelamat di tengah ancaman banjir yang rutin terjadi.

Program SEB hadir untuk menciptakan generasi muda yang peduli akan keberlanjutan energi. Keterlibatan program ini menyentuh 100 siswa-siswi (dari SD, SMP, hingga SMA) dan 70 tenaga pendidik.

Wakil Kepala Sekolah SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang, Budi Gunawan, menjelaskan bahwa inisiatif ini bermula dari komitmen untuk mewujudkan efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan.

“Program ini bertujuan menciptakan generasi yang sadar sejak dini mengenai pentingnya efisiensi energi,” kata Budi, Jumat (31/10/2025).

Wujud fisik dari program ini adalah instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mandiri berkapasitas 3,3 kWp dengan baterai 5 kWh. Meskipun kapasitasnya belum mampu menutupi seluruh kebutuhan sekolah dan asrama, keberadaan PLTS telah memberikan manfaat signifikan.

“Kami kan ada asrama. Jadi setiap mati lampu yang dipakai PLTS, hanya itu,” ucap Budi.

PLTS ini tidak hanya menjamin penerangan saat listrik padam, tetapi juga memberikan penghematan biaya listrik bulanan hingga Rp500.000, serta berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sebesar 1,565 ton CO₂ per tahun.

Selain listrik, kemandirian juga diwujudkan melalui Aquaponik Power by PLTS, sarana yang 100 persen ditenagai PLTS untuk menghasilkan sayuran dan ikan organik. Sarana ini berfungsi sebagai laboratorium pangan berkelanjutan, melengkapi program edukasi energi.

Inti dari SEB adalah membentuk kader Grand Warrior, siswa yang bertugas menjaga instalasi dan mengedukasi teman sebaya. Namun, di Aceh Tamiang yang mengalami banjir minimal setahun sekali, peran Grand Warrior diperluas menjadi agen perubahan lingkungan dan pelaku kesiapsiagaan bencana.

SLB Pembina, yang menaungi sekitar 300 siswa disabilitas (termasuk dari sekolah jarak jauh), memiliki siswa dengan beragam kebutuhan seperti tuna rungu, tuna netra, tuna grahita, tuna daksa, dan autis. Mengingat kerentanan mereka, pelatihan penanggulangan bencana menjadi krusial.

Kolaborasi pun terjalin dengan BPBD Aceh Tamiang. Pelatihan yang sudah berjalan beberapa kali sejak akhir 2024 ini berfokus pada simulasi banjir, kebakaran, hingga pertolongan pertama.

Operator Komunikasi BPBD Aceh Tamiang, Sulaiman, menegaskan alasan BPBD sangat antusias, “Mereka (kaum disabilitas) penting, sangat butuh, dan wajib, istilahnya seperti itu (diberi pelatihan),” ujar Sulaiman.

Ia menyoroti fakta bahwa penyebaran tempat tinggal kaum disabilitas di Aceh Tamiang memang berada di daerah rawan banjir, seperti Kecamatan Tenggulun.

Pelatihan kesiapsiagaan bencana yang diberikan kepada siswa disabilitas bukanlah tanpa tantangan. Nasib, seorang tuna daksa sekaligus Ketua Komunitas Disabilitas, mengungkapkan hambatan terbesar datang dari diri sendiri dan pihak lain, yaitu kepercayaan.

“Kendalanya sebenarnya kepercayaan saja. Mereka yang normal mungkin was-was kalau melepas kami di air, takutnya malah tenggelam," tuturnya.

Meskipun demikian, setelah beberapa kali pelatihan yang mencakup praktik langsung, simulasi pertolongan pertama pada korban pingsan, dan evakuasi diri saat banjir, Nasib merasakan dampak positif yang besar.

“Kepercayaan dirinya tambah lah,” katanya dengan tegas.

Penerapan ilmu ini sudah ia lakukan di lingkungan terdekat. Nasib, yang rumahnya sendiri menjadi korban banjir bandang, kini lebih antisipatif.

"Alhamdulillah, sudah diterapkan. Yang jelas di keluarga dulu,” ucapnya.

Peran kaum disabilitas juga mulai bergeser dari sekadar korban menjadi pelaku. Sulaiman dari BPBD mencatat bahwa pada banjir kecil akhir 2024, para difabel ini mulai turun tangan, menyalurkan informasi melalui grup WhatsApp dan ikut mendistribusikan sembako di lokasi pengungsian, seperti yang dialami Nasib saat banjir rob di Seruway.

Yasir, 32 tahun, seorang tuna rungu yang juga mengikuti pelatihan, merasakan betul manfaatnya. Ia menjadi tahu langkah-langkah yang harus dilakukan saat bencana, meskipun ia mengakui sedikit kesulitan mempraktikkan karena keterbatasan informasi dan durasi pelatihan yang hanya berlangsung satu hari.

Melihat antusiasme dan potensi para Grand Warrior ini, BPBD berharap program CSR ini dapat terus berlanjut. “Harapannya ke depan kegiatan seperti ini, frekuensinya bisa lebih ditingkatkan,” ujar Sulaiman.

Ia juga berharap jumlah personel yang dilatih dapat bertambah dan mereka bisa diberikan peralatan yang memadai untuk penugasan di lapangan, tentu saja di bawah koordinasi dan arahan BPBD.

Budi menambahkan bahwa sekolah hanya bisa menerima manfaat program, dan sangat berharap adanya tindak lanjut agar pelatihan kebencanaan ini dapat rutin dilaksanakan.

Melalui perpaduan antara kemandirian energi dan kesiapsiagaan bencana, SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang menunjukkan bahwa CSR yang terpadu mampu menciptakan dampak ganda—menyelamatkan lingkungan sekaligus meningkatkan martabat dan kemampuan siswa disabilitas di daerah rawan bencana. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN