Festival Sastra Museum Digelar Akhir Juli, Museum Disulap Jadi Ruang Kreatif Anak Muda

Seniman dan pegiat teater asal Medan, Porman Wilson Manalu. (foto: susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Seniman dan pegiat teater asal Medan, Porman Wilson Manalu akan menggelar Festival Sastra Museum pada 30-31 Juli 2026.
Porman mengatakan, festival yang menyasar pelajar dan mahasiswa berusia 13-23 tahun ini bertujuan untuk menghidupkan kecintaan generasi muda terhadap museum sastra, terutama puisi.
“Karena selama ini sastra ini masih kurang diminati ya dibandingkan musik atau film. Makanya ini salah satu target jangka panjang kita, mulai dari edukasi muda itu bagaimana sastra bisa masuk ke mereka,” kata Penerima Manfaat Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan dan Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan tersebut dalam konferensi pers, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, meski museum sudah berbenah, namun tetap saja masih sangat sulit untuk menarik minat generasi muda untuk datang dan menggelar pertemuan-pertemuan kreatif.
“Pelajar atau mahasiswa datang ke museum hanya untuk mengerjakan tugas sekolah. Kalau kesadaran untuk beraktivitas di museum sebagai proses kreatif, wisata dan hiburan masih belum maksimal,” katanya.
Saat ini anak-anak muda lebih menyukai berkumpul dan nongkrong di kafe atau tempat-tempat yang viral dan estetik. Untuk menarik peserta muda sebanyak-banyaknya, Porman dan tim akan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, kampus dan sanggar seni sebelum festival berlangsung.
Festival yang akan berlangsung di Museum Negeri Provinsi Sumatera tersebut akan menghadirkan sejumlah kegiatan mulai dari diskusi sastra, workshop tata kelola sastra museum, workshop menulis karya sastra, pojok bincang, lomba kreativitas sastra, pameran, peluncuran buku hingga penayangan audio visual sastra museum.
Melalui program ini, museum diharapkan tidak lagi dipersepsikan hanya sebagai tempat menyimpan artefak masa lalu, melainkan menjadi ruang kreatif, edukatif sekaligus destinasi berkumpul bagi generasi muda.
Dalam jangka panjang, Porman juga menargetkan festival serupa menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan dan melahirkan sanggar museum sebagai wadah kreativitas berbasis museum dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan.
PREVIOUS ARTICLE
MAN 3 Asahan Resmi Beroperasi, Warga Aek Ledong Kini Tak Perlu Jauh Sekolah ke Kisaran






















