Thursday, July 9, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

New World Screwworm Bikin Resah, Ini Fakta Parasit Pemakan Jaringan Hidup yang Belum Dilaporkan Masuk Indonesia

Mistar.idKamis, 9 Juli 2026 pukul 06.30 WIB
new_world_screwworm_bikin_resah_ini_fakta_parasit_pemakan_jaringan_hidup_yang_belum_dilaporkan_masuk_indonesia

Ilustrasi, New World Screwworm Bikin Resah, Ini Fakta Parasit Pemakan Jaringan Hidup yang Belum Dilaporkan Masuk Indonesia. (foto:fb@TexasCoalitionforAnimalProtection/fb@DiscvrBlog/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (9/7/2026) – Istilah "Cacing Pita Dunia Baru" atau New World Screwworm (NWS) belakangan ramai dibahas di media sosial dan sejumlah pemberitaan internasional. Organisme yang menjadi sorotan itu sebenarnya bukan cacing pita, melainkan larva lalat parasit Cochliomyia hominivorax yang menyerang jaringan hidup hewan, bahkan dalam kasus tertentu juga dapat menginfeksi manusia. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai keberadaannya di Indonesia, namun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat tingginya mobilitas perdagangan hewan antarnegara.

Bukan Cacing Pita, Melainkan Larva Lalat Parasit

Kesalahpahaman mengenai istilah "cacing pita" muncul karena bentuk larvanya yang memanjang. Padahal, NWS merupakan fase larva dari lalat parasit Cochliomyia hominivorax yang berkembang biak dengan memanfaatkan luka terbuka pada tubuh inangnya.

Berbeda dengan belatung biasa yang mengonsumsi jaringan mati, larva NWS justru memakan jaringan yang masih hidup. Sifat inilah yang membuat infestasinya jauh lebih berbahaya.

Lalat betina meletakkan ratusan telur di sekitar luka terbuka, bekas operasi, gigitan serangga, maupun bagian tubuh yang lembap seperti hidung, mata, mulut, dan alat kelamin. Dalam waktu kurang dari 24 jam, telur menetas dan larva mulai menggali masuk ke jaringan tubuh.

Akibatnya, luka yang semula kecil dapat berkembang menjadi kerusakan jaringan yang luas hanya dalam beberapa hari apabila tidak segera ditangani.

Pernah Jadi Ancaman Besar di Benua Amerika

New World Screwworm telah dikenal ilmuwan selama lebih dari satu abad. Parasit ini secara historis berasal dari Amerika Selatan, Amerika Tengah, kawasan Karibia, serta sebagian wilayah Meksiko.

Keberadaannya pernah menjadi ancaman serius bagi industri peternakan di Amerika Serikat. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan mendorong diterapkannya program pengendalian biologis menggunakan lalat jantan steril.

Melalui metode tersebut, lalat betina yang hanya kawin satu kali sepanjang hidup akan menghasilkan telur yang tidak berkembang menjadi larva setelah kawin dengan jantan steril. Strategi itu berhasil menekan populasi NWS hingga akhirnya dinyatakan berhasil diberantas di Amerika Serikat selama beberapa dekade.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, kasus baru kembali ditemukan di sejumlah negara Amerika Tengah dan terus bergerak ke arah utara hingga Meksiko. Perkembangan itu membuat otoritas kesehatan hewan internasional kembali meningkatkan pengawasan.

Hewan Peliharaan Juga Bisa Menjadi Korban

Meski kerap dikaitkan dengan ternak seperti sapi dan kambing, NWS juga dapat menyerang anjing, kucing, kuda, rusa, hingga satwa liar lainnya.

Risiko meningkat ketika hewan memiliki luka terbuka akibat perkelahian, kecelakaan, tindakan operasi, maupun infeksi kulit. Luka yang tidak segera dibersihkan menjadi lokasi ideal bagi lalat untuk meletakkan telurnya.

Setelah larva berkembang, jaringan hidup di sekitar luka akan terus dimakan. Dampaknya, luka membesar dengan cepat, mengeluarkan cairan berbau menyengat, dan menyebabkan rasa nyeri yang berat pada hewan.

Dalam kondisi yang lebih parah, infestasi dapat memicu infeksi sekunder, kerusakan jaringan yang luas, hingga kematian apabila terlambat mendapat penanganan medis.

Pemilik hewan disarankan segera membawa peliharaan ke dokter hewan apabila menemukan luka yang cepat membesar, keluar cairan berbau busuk, muncul larva berwarna putih, hewan terus menjilat area luka, kehilangan nafsu makan, atau tampak lesu.

Indonesia Belum Melaporkan Kasus

Sampai saat ini belum ada laporan resmi yang menyatakan keberadaan Cochliomyia hominivorax di Indonesia.

Data dari berbagai lembaga kesehatan hewan internasional menunjukkan penyebaran NWS masih terkonsentrasi di Amerika Selatan, Amerika Tengah, Karibia, Meksiko, serta beberapa wilayah yang berbatasan dengan Amerika Serikat.

Meski demikian, pengawasan tetap menjadi langkah penting. Perdagangan hewan dan produk peternakan lintas negara dinilai berpotensi meningkatkan risiko masuknya berbagai penyakit maupun parasit apabila sistem karantina tidak berjalan optimal.

Pencegahan juga dimulai dari pemilik hewan peliharaan. Pemeriksaan rutin setelah hewan beraktivitas di luar rumah, membersihkan setiap luka hingga sembuh, menjaga kebersihan kandang, serta menggunakan obat antiparasit sesuai anjuran dokter hewan dapat membantu menekan risiko infestasi.

Apabila ditemukan larva di dalam luka, penanganan sebaiknya tidak dilakukan sendiri karena sebagian larva dapat tertinggal di jaringan dan memperburuk kondisi luka.

(berbagaisumber/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN