Friday, July 3, 2026
home_banner_first
PIALA DUNIA 2026

Spanyol vs Austria: Oyarzabal Pecah Kebuntuan, La Roja Dominan di Babak Pertama Piala Dunia 2026

Mistar.idJumat, 3 Juli 2026 pukul 02.59 WIB
spanyol_vs_austria_oyarzabal_pecah_kebuntuan_la_roja_dominan_di_babak_pertama_piala_dunia_2026

Mikel Oyarzabal yang memecah kebuntuan La Roja. (foto:reuters/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID – Tim Nasional Spanyol menunjukkan kelasnya sebagai juara Eropa saat menghadapi Austria pada babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026. Bermain di SoFi Stadium, Inglewood, California, Jumat (3/7/2026) dini hari WIB, La Roja menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0 berkat gol Mikel Oyarzabal.

Keunggulan tersebut bukanlah hasil keberuntungan. Spanyol tampil dominan sejak menit pertama dan berkali-kali memaksa Austria bertahan di wilayahnya sendiri. Tim asuhan Luis de la Fuente mengendalikan tempo pertandingan melalui penguasaan bola yang rapi, pergerakan antarlini yang cair, serta tekanan tanpa henti dari sektor sayap.

Gol yang ditunggu akhirnya hadir pada menit ke-36. Berawal dari aksi Pedri yang membawa bola menembus lini tengah Austria, serangan kemudian dialirkan ke sisi kiri. Marc Cucurella yang mendapatkan ruang langsung mengirim umpan matang ke depan gawang. Oyarzabal yang lolos dari pengawalan tak menyia-nyiakan peluang dan menaklukkan Alexander Schlager dari jarak dekat.

Gol tersebut kembali menegaskan peran penting Oyarzabal di lini depan Spanyol. Ketajamannya menjadi salah satu alasan mengapa La Roja terus tampil konsisten dalam dua tahun terakhir.

Austria Bertahan Mati-matian dari Gempuran La Roja

Sejak peluit awal dibunyikan, Austria sebenarnya sudah dipaksa bekerja keras. Baru satu menit pertandingan berjalan, Lamine Yamal langsung menciptakan peluang berbahaya setelah menerima umpan Alex Baena. Namun Schlager masih mampu menggagalkan upaya pemain muda Barcelona itu.

Tekanan Spanyol tidak berhenti di situ. Dani Olmo, Pedri, hingga Oyarzabal bergantian menguji pertahanan Austria yang dikomandoi David Alaba. Meski sempat kesulitan keluar dari tekanan, pasukan Ralf Rangnick perlahan mulai menemukan ritme permainan dan mencoba meredam agresivitas lawan.

Namun secara keseluruhan, Austria lebih banyak dipaksa bertahan. Upaya mereka untuk membangun serangan kerap kandas ketika memasuki area pertahanan Spanyol yang tampil disiplin melalui duet Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi.

Peluang terbaik Austria lahir pada menit ke-18 saat Marcel Sabitzer mengirim umpan silang berbahaya ke kotak penalti. Bola nyaris disambut Michael Gregoritsch, tetapi melintas tipis di depan gawang Unai Simon.

Schlager Tampil Heroik, Selamatkan Austria dari Kebobolan Lebih Banyak

Jika Austria masih memiliki peluang pada babak kedua, salah satu alasannya adalah penampilan luar biasa Alexander Schlager.

Kiper Austria itu menjadi sosok tersibuk sepanjang 45 menit pertama. Ia berkali-kali menggagalkan peluang emas Spanyol, termasuk saat menepis tembakan rendah Oyarzabal yang mengarah ke sudut gawang pada menit ke-33.

Puncak aksinya terjadi pada masa injury time. Tendangan bebas Alex Baena sempat membentur tiang gawang dan bola liar jatuh tepat ke kaki Lamine Yamal di depan gawang. Dalam situasi yang tampak hampir pasti menjadi gol, Schlager melakukan penyelamatan refleks luar biasa yang membuat Austria tetap hanya tertinggal satu gol.

Tanpa penampilan gemilang sang penjaga gawang, Austria kemungkinan sudah tertinggal dengan margin yang jauh lebih besar sebelum turun minum.

Gol Cucurella yang Dianulir Sempat Picu Perdebatan

Sebelum Oyarzabal memecah kebuntuan, Spanyol sebenarnya sempat merayakan gol pada menit ke-29.

Situasi bermula dari sepak pojok yang menciptakan kemelut di depan gawang Austria. Bola kemudian jatuh ke kaki Marc Cucurella yang sukses menyarangkannya ke dalam gawang. Namun wasit menganulir gol tersebut setelah VAR melakukan pemeriksaan.

Pau Cubarsi dianggap melakukan pelanggaran terhadap Schlager dalam proses terjadinya gol. Keputusan itu memicu perdebatan karena kontak yang terjadi dinilai cukup minimal. Meski demikian, keputusan tetap dipertahankan dan skor kembali 0-0.

Beruntung bagi Spanyol, kontroversi tersebut tidak memengaruhi fokus permainan mereka. Tujuh menit kemudian, Oyarzabal memastikan dominasi La Roja terbayar dengan gol pembuka.

Yamal Terus Mengancam dari Sisi Sayap

Meski belum mencatatkan namanya di papan skor, Lamine Yamal kembali menjadi salah satu pemain paling berbahaya di kubu Spanyol.

Kecepatan, kemampuan menggiring bola, serta keberaniannya dalam duel satu lawan satu membuat lini belakang Austria kesulitan. Kevin Danso dan Stefan Posch beberapa kali dipaksa bekerja ekstra untuk menghentikan pergerakan pemain berusia 18 tahun tersebut.

Yamal bahkan nyaris mencetak gol sebelum jeda jika bukan karena penyelamatan luar biasa Schlager. Penampilannya sekali lagi menunjukkan mengapa ia menjadi salah satu pemain muda paling berpengaruh di turnamen ini.

Fakta Menarik Babak Pertama Spanyol vs Austria

Mikel Oyarzabal kini telah mencetak 16 gol dalam 16 pertandingan terakhir bersama Timnas Spanyol.

Sejak awal 2025, hanya Erling Haaland yang memiliki catatan gol internasional lebih baik dibanding Oyarzabal di antara pemain Eropa.

Spanyol datang ke laga ini dengan rekor 34 pertandingan tanpa kekalahan melawan sesama negara Eropa sejak tumbang dari Skotlandia pada 2023.

Austria belum mampu mencatatkan tembakan tepat sasaran sepanjang babak pertama meski sempat beberapa kali membangun serangan menjanjikan.

Alexander Schlager menjadi pemain Austria paling menonjol berkat sejumlah penyelamatan krusial yang menjaga harapan timnya tetap hidup.

Babak Kedua Masih Menjanjikan Drama

Keunggulan satu gol membuat Spanyol berada dalam posisi yang nyaman, tetapi pertandingan masih jauh dari selesai. Austria masih memiliki 45 menit untuk membalikkan keadaan, sementara La Roja berpeluang memperbesar keunggulan jika mampu mempertahankan intensitas serangan mereka.

Melihat jalannya babak pertama, Spanyol tampil sebagai tim yang lebih dominan dan lebih berbahaya. Namun selama Schlager masih berdiri kokoh di bawah mistar, Austria tetap memiliki alasan untuk percaya bahwa kejutan di Piala Dunia 2026 belum berakhir.

(fotmob/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN