Thursday, September 3, 2026
home_banner_first
OTOMOTIF

Honda Terancam Mobil China? Ada Strategi Besar Rp140 Triliun

Mistar.idKamis, 3 September 2026 pukul 19.36 WIB
honda_terancam_mobil_china_ada_strategi_besar_rp140_triliun

Logo Honda. (foto:wikipedia/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (3/9/2026) — Persaingan industri otomotif global memasuki babak baru. Honda kini menyiapkan strategi besar untuk menghadapi tekanan dari produsen mobil China yang semakin agresif, terutama di segmen kendaraan listrik (EV).

Honda berencana memangkas biaya lebih dari US$9 miliar atau sekitar Rp140 triliun hingga 2030. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meminta para pemasoknya memangkas harga secara agresif.

Reuters melaporkan, berdasarkan dokumen internal dan sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Honda menargetkan penghematan lebih dari 1,5 triliun yen dalam empat tahun ke depan.

Langkah tersebut tidak lepas dari semakin ketatnya persaingan dengan produsen mobil China, termasuk BYD. Pabrikan China dinilai mampu menawarkan kendaraan dengan harga kompetitif sekaligus menghadirkan teknologi EV dan fitur digital yang semakin maju.

Honda bahkan meminta pemasok melakukan pemangkasan biaya hingga 30 persen pada sejumlah komponen utama, termasuk komponen hasil pengepresan dan penempaan, komponen kelistrikan, hingga komponen untuk kendaraan berbasis software.

Strategi ini menunjukkan bahwa perang otomotif saat ini bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga siapa yang mampu memproduksi mobil dengan biaya paling efisien.

Honda Mulai Mengubah Strategi Mobil Listrik

Tekanan terhadap Honda semakin besar setelah strategi elektrifikasi perusahaan menghadapi tantangan berat.

Pada Maret 2026, Honda memutuskan membatalkan pengembangan dan peluncuran tiga model EV yang sebelumnya direncanakan diproduksi di Amerika Utara, yakni Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX. Honda menilai kondisi permintaan EV saat ini berisiko membuat produksi dan penjualan model tersebut menimbulkan kerugian lebih besar dalam jangka panjang.

Honda juga memperkirakan kerugian dan beban terkait peninjauan ulang strategi elektrifikasi dapat mencapai 2,5 triliun yen.

Dalam laporan perusahaan, Honda menyebut persaingan di pasar EV China semakin intensif seiring kemunculan cepat produsen EV baru. Kondisi tersebut membuat Honda turut meninjau kembali rencana peluncuran sejumlah model EV di China.

Pada Mei 2026, Honda kemudian membukukan kerugian tahunan pertamanya sejak menjadi perusahaan terbuka pada 1957. Beban besar dari bisnis EV menjadi salah satu faktor utama di balik kondisi tersebut.

Situasi ini membuat Honda mengubah prioritas. EV tidak lagi menjadi satu-satunya tumpuan untuk menghadapi masa depan otomotif.

Hybrid Jadi Senjata Baru Honda

Honda kini kembali memperkuat teknologi hybrid sebagai jembatan menuju era kendaraan listrik.

Sebelumnya Honda telah menargetkan penjualan mobil hybrid global mencapai 1,3 juta unit per tahun pada 2030, atau sekitar dua kali lipat dibandingkan 2023.

Strategi tersebut semakin penting setelah Honda mengevaluasi ulang rencana EV-nya.

Perusahaan menyatakan akan memperkuat jajaran mobil hybrid sekaligus meningkatkan daya saing biaya. Honda juga menegaskan bahwa pengembangan EV tetap dilakukan dalam jangka panjang, tetapi alokasi sumber daya akan disesuaikan dengan tingkat permintaan dan profitabilitas pasar.

Artinya, Honda tidak benar-benar meninggalkan mobil listrik. Namun, perusahaan tampaknya memilih jalur yang lebih fleksibel dengan mengandalkan hybrid untuk menghadapi kondisi pasar saat ini.

Honda Vs BYD, Siapa Lebih Siap?

Di sisi lain, BYD justru terus memperluas pasar global.

Reuters melaporkan penjualan global BYD pada Agustus 2026 mencapai 440.293 kendaraan, naik 17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan luar negeri bahkan melonjak 134,5 persen menjadi 189.466 unit.

Perkembangan tersebut memperlihatkan mengapa produsen Jepang seperti Honda semakin serius memperbaiki struktur biaya.

BYD memiliki keunggulan dalam skala produksi EV, teknologi baterai, integrasi komponen, serta kemampuan membawa produk China ke berbagai pasar dunia. Bahkan pada paruh pertama 2026, pendapatan BYD dari pasar internasional untuk pertama kalinya melampaui pendapatan dari China.

Namun, Honda masih memiliki modal penting berupa pengalaman panjang dalam teknologi mesin, hybrid, jaringan penjualan, serta basis konsumen global.

Karena itu, pertarungan Honda dan BYD tidak bisa hanya dilihat sebagai pertarungan mobil bensin melawan mobil listrik. Ini merupakan pertarungan model bisnis, teknologi, biaya produksi, dan kecepatan beradaptasi.

Apakah Harga Mobil Honda Bakal Turun?

Target penghematan Rp140 triliun tentu memunculkan pertanyaan mengenai harga mobil Honda di masa depan.

Namun, penghematan biaya tidak otomatis berarti harga mobil akan langsung turun. Efisiensi tersebut bisa digunakan untuk memperbaiki margin keuntungan, menekan biaya produksi, membiayai pengembangan teknologi, atau membuat harga produk lebih kompetitif.

Justru salah satu tujuan utama strategi Honda adalah memperkuat daya saing biaya agar perusahaan mampu menghadapi produsen China yang agresif dalam menawarkan harga dan teknologi.

Dengan kata lain, konsumen belum tentu langsung mendapatkan potongan harga besar. Tetapi apabila efisiensi berhasil dilakukan, Honda memiliki ruang lebih besar untuk bermain di sisi harga.

Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik bagi strategi baru Honda karena teknologi hybrid sudah mulai diperluas di Tanah Air.

Honda Indonesia saat ini telah menawarkan sejumlah model dengan teknologi e. Di antaranya HR-V e dan CR-V e, sementara Honda juga membawa Prelude sebagai mobil sport hybrid ke pasar Indonesia.

Honda Indonesia bahkan menyatakan pada ajang IIMS 2026 bahwa lini hybrid menjadi salah satu bagian penting dari produk yang ditampilkan, termasuk STEP WGN e, HR-V RS e dan CR-V RS e.

Teknologi e Honda juga memiliki karakter berbeda dari mobil listrik murni. Sistem tersebut tidak membutuhkan pengisian daya dari luar karena baterai mendapatkan energi dari mesin pembakaran dan regenerative braking.

Strategi ini berpotensi menjadi semakin penting bagi Honda di Indonesia.

Pasalnya, konsumen mendapatkan teknologi elektrifikasi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya seperti mobil listrik murni.

Namun, Honda juga menghadapi tantangan baru. Merek-merek China semakin aktif menawarkan kendaraan listrik dan hybrid dengan harga serta fitur yang kompetitif di pasar Indonesia.

Masa Depan Honda Ditentukan oleh Efisiensi

Strategi penghematan lebih dari Rp140 triliun menunjukkan bahwa Honda sedang menghadapi perubahan besar dalam industri otomotif.

Perusahaan tidak hanya dituntut membuat mobil yang bagus, tetapi juga harus mampu membuatnya dengan biaya yang jauh lebih kompetitif.

Di saat yang sama, Honda harus menentukan keseimbangan antara mesin bensin, hybrid, dan EV.

Jika strategi tersebut berhasil, Honda bisa memiliki ruang untuk memperkuat bisnis hybrid sekaligus kembali membangun bisnis EV ketika permintaan dan kondisi pasar sudah lebih menguntungkan.

Namun jika produsen China terus bergerak lebih cepat dalam teknologi, biaya, dan ekspansi global, tekanan terhadap Honda akan semakin besar.

Pertarungan Honda melawan mobil China dengan demikian baru memasuki babak awal. Dan Rp140 triliun yang disiapkan Honda menjadi salah satu tanda paling jelas bahwa perusahaan Jepang tersebut tidak ingin kehilangan tempat di tengah perubahan besar industri otomotif dunia.

(reuters/honda/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN