Sunday, June 21, 2026
home_banner_first
OPINI

Kartini Tak Selalu Berkebaya

Mistar.idSelasa, 21 April 2026 pukul 16.21 WIB
journalist-avatar-top
kartini_tak_selalu_berkebaya

Mahniar Sinaga. (kanan). (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Oleh: Mahniar Sinaga

Saya dilahirkan dari keluarga sederhana. Dengan 5 orang anak, maka mamak membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue. Ya, mamak suku Melayu yang suka membuat cemilan khasnya—manis, manis, dan manis.

Manisnya kue-kue yang dibuat mamak membuat waktu ia membantu perekonomian keluarga terasa ringan tanpa mengeluh. Dia ikhlas. Namun, tetap saja uang babah dan mamak tak cukup membeli buku baru.

Setiap ke pasar untuk membeli bahan-bahan kue, mamak selalu singgah ke rumah Uak yang skillnya juga berjualan. Uak selalu punya buku cerita “Bobo”, komik, atau novel. Ada yang dibeli baru,bekas, dan ada juga yang disewa untuk anaknya yang hobi membaca.

Kadang kala mamak tidak membawa pulang buku itu untuk kami, maka kami membaca apa saja, termasuk koran bekas pembungkus bawang dan cabai. Bisa dibayangkan, sambil kupas bawang, sambil baca berita lama, hihihi, multitasking sejak dini.

Beberapa tahun kemudian kami pindah rumah agak ke kota. Di sana ada penyewaan komik. Wah, itu seperti menemukan harta karun. Tapi aku bukan membahas lokasi rumah yang dekat dengan penyewaan buku, ya.

Bukan itu. Kami rela menyisihkan uang jajan demi menyewa komik atau novel. Kadang niatnya cuma lihat-lihat, tapi pulangnya bawa satu komik dan wajah pura-pura polos saat ditanya mamak, “Uang jajannya ke mana?”

Saat ini aku berefleksi bahwa ibuku adalah sosok Kartini yang tanpa aku sadari dulu mendorong kami untuk mandiri membaca. Bahkan saat SMP dan SMA, aku suka berkirim surat.

Kadang kala di hari Jumat, aku berjalan kaki dari sekolah ke kantor pos hanya untuk membalas surat dari majalah sahabat pena. Rasanya luar biasa! Deg-degan menunggu balasan, seperti menunggu gebetan, tapi ini lebih mendidik.

Lucunya, dulu aku pernah salah kirim surat. Harusnya untuk “Sahabat Pena di Bandung”, malah terkirim ke alamat yang tulisannya mirip tapi ternyataaaaa, hihihi toko bangunan. Suratku dikembalikan. Itu SMP, ya SMP. Dan tidak terjadi lagi saat aku SMA. Entah bagaimana perasaanku saat itu melihat surat yang dikembalikan di meja piket sekolah.

Dari situlah aku sadar, literasi itu bukan soal punya buku mahal, tapi soal kemauan untuk membaca dan belajar dari apa pun yang ada. Mamak tidak pernah memaksa kami membaca. Ia hanya memberi contoh saja; bekerja keras, tidak mengeluh, dan diam-diam menanamkan kebiasaan baik.

Dari dapur sempit dengan aroma kue yang manis, lahirlah mimpi-mimpi besar anak-anaknya. Kini, ketika aku menjadi seorang pendidik, aku tersenyum sendiri mengingat masa lalu. Ternyata, Kartini tidak selalu memakai kebaya dan duduk di balik meja menulis surat perjuangan. Kartiniku memakai celemek, tangannya penuh adonan kue, dan sesekali menyelipkan koran bekas untuk kami baca.

Perempuan berdaya itu bukan hanya yang berdiri di panggung besar, tapi juga yang berdiri di dapur sempit, mengaduk makanan dan pekerjaan rumah lainnya sambil menanamkan literasi dalam diam. Ya, konsistensi mamak yang mendidik kami arti hidup sesungguhnya: “literasi keluarga”, walau beliau sibuk.

Maka, perempuan saat ini yang hidup di zaman teknologi, tidak lagi punya alasan untuk tidak menghadirkan literasi di rumahnya. Jika dulu kami membaca dari koran bekas pembungkus cabai, hari ini anak-anak bisa membaca dari layar yang lebih canggih dari televisi tetangga zaman dulu.

Tinggal bagaimana kita mengubah “scroll” menjadi “belajar”, mengubah “nonton” menjadi “menyimak”, dan mengubah “rebahan” menjadi minimal buka buku dulu sebelum tidur.

Perempuan hari ini punya dua peran hebat, yakni menjadi sekolah pertama bagi anak, sekaligus menjadi kompas di tengah derasnya arus informasi. Tidak harus sempurna, tidak harus selalu benar, tapi hadir. Hadir dalam obrolan kecil, dalam cerita sebelum tidur, dalam tanya sederhana, “Hari ini kamu belajar apa?” dan lain-lain. Karena dari situlah tumbuh anak-anak yang tidak hanya pintar, tetapi juga punya kompas. Ya, arah menuju masa depan.

Aku belajar dari mamak lagi, bahwa literasi bukan soal seberapa banyak buku yang kita punya, tapi seberapa sering kita membuka ruang belajar di rumah. Dan ternyata, ruang itu tidak harus luas. Cukup di antara aroma masakan, suara piring, dan percakapan hangat yang sederhana, namun bermakna karena mamak punya waktu untuk bercerita atau bertanya pada anaknya.

Karena sejatinya, literasi pertama lahir dari rumah. Dari seorang ibu. Dari seorang perempuan yang mungkin tidak pernah disebut hebat, tapi diam-diam melahirkan generasi yang kuat.

Dari dapur kecil, menuju mimpi yang tak pernah kecil.

Selamat Hari Kartini!


Penulis merupakan Guru SDN 068008 Kota Medan, (penggiat literasi, praktisi pendidikan)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN