Hari Kartini 2026, Aktivis Asahan Soroti Hak Perempuan dan Nasib Guru PPPK

Aktivis perempuan dan advokat di Asahan, Dianti Novita Marwa. (foto: Perdana/Mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Peringatan Hari Kartini pada Selasa, 21 April 2026, kembali menjadi momentum refleksi atas perjuangan emansipasi perempuan yang diwariskan Raden Ajeng Kartini. Di Kabupaten Asahan, semangat tersebut digaungkan oleh Dianti Novita Marwa, aktivis perempuan yang juga bagian dari bidang hukum Lembaga Pemerhati Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (LPPAI).
Dianti menilai perjuangan Kartini belum sepenuhnya selesai. Ia menyebut masih banyak hak perempuan yang terabaikan, khususnya dalam sektor pekerjaan dan perlindungan hukum.
“Semangat Kartini hari ini bukan hanya soal kesetaraan, tetapi bagaimana perempuan benar-benar mendapatkan hak yang layak dan perlindungan yang adil,” ujarnya saat ditemui di Asahan, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, salah satu persoalan yang menjadi fokus advokasinya adalah nasib guru PPPK paruh waktu di daerah. Ia mengungkapkan lebih dari 70 persen tenaga pengajar dalam kategori tersebut merupakan perempuan yang hingga kini dinilai belum mendapatkan kepastian dan perlindungan optimal.
“Mayoritas dari mereka adalah perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Namun, hak-hak mereka belum terpenuhi secara maksimal, baik dari sisi kesejahteraan maupun kepastian kerja,” kata Dianti.
Ia menegaskan kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan emansipasi perempuan masih menghadapi tantangan nyata di lapangan. Menurutnya, negara dan seluruh pemangku kepentingan perlu hadir memberikan solusi konkret.
“Kalau kita benar-benar ingin melanjutkan perjuangan Kartini, maka perempuan harus diberikan ruang yang adil, termasuk dalam dunia kerja. Tidak boleh ada diskriminasi atau pengabaian terhadap hak mereka,” tegas mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tersebut.
Dianti berharap momentum Hari Kartini 2026 tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi mampu mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada perempuan, khususnya mereka yang berada di sektor rentan.
“Harapan saya, semangat Kartini bisa menjadi energi untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang selama ini terpinggirkan. Perempuan harus berani bersuara, dan negara wajib mendengar,” ungkapnya.
Ia juga mengajak generasi muda, khususnya perempuan di Asahan, untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan tidak takut memperjuangkan haknya.
“Perempuan hari ini harus cerdas, mandiri, dan berani. Itulah wujud nyata semangat Kartini di era sekarang,” tutupnya.
BERITA TERPOPULER






















