Insiden Tendangan ala Kungfu ke Lawan, Pemain Putra Jaya Pasuruan Terancam Dilarang Bermain Seumur Hidup

Insiden horor yang terjadi pada pertandingan Putra Jaya Pasuruan vs Perseta 1970 Tulungagung di Grup CC Liga 4 Jawa Timur putaran 32 besar yang digelar di Stadion Gelora Bangkalan, Madura, Senin (5/1/2026). (foto: tangkapan layar/mistar)
Madura, MISTAR.ID
Komite Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Timur mengambil alih penanganan insiden yang diduga merupakan pelanggaran disiplin berat dalam pertandingan antara PS Putra Jaya Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung.
Laga tersebut berlangsung di Stadion Bangkalan pada Senin (5/1/2026) dan berakhir dengan kemenangan Perseta 1970 Tulungagung. Insiden yang terjadi di babak kedua pertandingan itu menjadi perhatian luas publik sepak bola Jawa Timur setelah rekaman videonya beredar di media sosial. Tayangan tersebut memicu kecaman dari warganet serta mendorong Komdis PSSI Jawa Timur untuk segera melakukan langkah penegakan disiplin.
Apa yang terjadi dalam pertandingan PS Putra Jaya melawan Perseta? Ketua Komdis PSSI Jawa Timur Makin Rahmat menjelaskan berdasarkan video yang beredar dan laporan resmi perangkat pertandingan, pemain PS Putra Jaya Pasuruan Muhammad Hilmi Gimnastiar diduga melakukan pelanggaran serius terhadap pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman.
“Itu terlihat di menit 72 saat skor 0-4, kemenangan sementara oleh Perseta, jika dilihat di video persepsi saya memang terlihat pelanggaran berat,” kata Makin dikutip, Rabu (7/1/2026) dikutip dari Antara.
Dalam insiden tersebut, Muhammad Hilmi terlihat melakukan penghadangan bola menggunakan kaki kanan yang mengenai bagian dada Firman. Benturan keras itu membuat Firman terjatuh dan harus mendapatkan penanganan medis.
Mengapa Komdis PSSI Jatim langsung mengambil alih kasus ini? Makin menyampaikan bahwa kasus tersebut langsung ditangani Komdis PSSI Jawa Timur karena indikasi pelanggaran yang masuk kategori berat.
Komdis menilai kejadian ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui laporan wasit, melainkan perlu proses pemeriksaan dan persidangan disiplin. Ia mengatakan sidang Komdis telahd dijadwalkan.
Menurut Makin, insiden tersebut berpotensi melanggar Pasal 48 Kode Disiplin PSSI yang mengatur tentang pelanggaran disiplin berat. Pasal ini memiliki ancaman hukuman paling berat berupa larangan bermain seumur hidup.
Namun demikian, ia menegaskan keputusan akhir baru dapat ditetapkan setelah seluruh rangkaian sidang dan pemeriksaan selesai dilakukan.
“Semua akan diputuskan dalam sidang komdis hari ini, semoga bisa secepatnya untuk keluar hasilnya,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi Firman, pemain Perseta 1970 Tulungagung yang menjadi korban menjalani perawatan di rumah sakit Makin juga menyampaikan apresiasi kepada panitia pelaksana pertandingan yang dinilai sigap dalam memberikan pertolongan pertama kepada korban di lapangan.
“Saya juga mengapresiasi panitia pelaksana yang sigap langsung memberi pertolongan pertama kepada pemain Perseta, karena kami juga tidak ingin ada pemain yang meninggal saat bertanding lagi seperti Choirul Huda,” ujarnya.
Usai pertandingan, Firman mengungkapkan Muhammad Hilmi sempat menyampaikan permintaan maaf. Namun, menurutnya, permintaan maaf tersebut belum menunjukkan penyesalan yang sungguh-sungguh.
“Pemain sudah meminta maaf tapi agak tidak ada itikadnya,” ucap Firman.
Manajemen PS Putra Jaya Pasuruan akhirnya mengambil langkah tegas dengan memberhentikan Muhammad Hilmi Gimnastiar dari tim. Keputusan tersebut diumumkan melalui surat resmi klub yang diunggah di akun Instagram PS Putra Jaya Sumurwaru pada hari yang sama.
Dalam surat bernomor PSPJ/02/05-01-2026, manajemen menyatakan pemberhentian dilakukan karena tindakan Hilmi dinilai tidak sesuai dengan asas sepak bola dan melanggar prinsip sportivitas.
Klub juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak, khususnya kepada Perseta 1970 Tulungagung dan Firman sebagai korban insiden.






















