Mendag: Mudah-mudahan Harga Plastik Turun Bulan Ini

Menteri Perdagangan Budi Santoso saat ekspose hasil pengawasan barang beredar dan jasa pada Januari-Maret 2025. (Foto: Kementerian Perdagangan)
Jakarta, MISTAR.ID
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso berharap harga plastik dapat mulai turun pada April ini seiring upaya pemerintah mencari sumber alternatif impor bahan baku biji plastik, yakni nafta, di luar kawasan Timur Tengah.
Ia menjelaskan, selama ini pasokan nafta Indonesia banyak bergantung pada Timur Tengah. Namun, distribusinya terganggu akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kini menjajaki sumber impor baru dari India, Amerika Serikat, dan Afrika.
"Mudah-mudahan (harga plastik bisa turun bulan ini)," ujar Budi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026), dilansir dari CNN Indonesia.
Budi menambahkan, proses impor dari ketiga wilayah tersebut masih berlangsung. Pemerintah masih menunggu ketersediaan stok dari negara asal sebelum pengiriman bisa dilakukan.
Selain itu, proses pengiriman juga diperkirakan mengalami keterlambatan akibat kondisi geopolitik di Timur Tengah. Akibatnya, impor bahan baku baru belum terealisasi, sehingga produsen plastik dalam negeri masih mengandalkan stok yang ada saat ini.
Pemerintah, lanjut Budi, juga terus mencari alternatif pasokan dari negara lain melalui perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai wilayah.
Ia mengakui Indonesia harus bersaing dengan sejumlah negara produsen plastik seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura dalam memperoleh pasokan nafta.
"Kita terus mencari (dari) negara lain yang bisa mensuplai untuk bahan baku biji plastik," ujar Budi.
Di sisi lain, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia, Adhi S Lukman, menyebut kenaikan harga plastik menjadi persoalan serius, terutama bagi pelaku industri makanan dan minuman.
Menurutnya, para pelaku usaha telah menerima informasi dari pemasok bahwa stok bahan baku plastik mulai menipis. Kondisi ini membuat industri kesulitan dalam menyediakan kemasan karena harga dari pemasok terus meningkat.
"Dari beberapa pemasok ada yang bilang, terakhir bulan Mei atau Juni sudah habis (stok punya mereka). Ini yang harus dicarikan solusinya," ujar Adhi.
Ia menyebut kenaikan harga plastik cukup bervariasi, mulai dari 30 persen hingga 60 persen, bahkan ada yang mencapai 100 persen. Berdasarkan laporan anggota GAPMMI, biaya kemasan plastik untuk produk makanan beku hampir melonjak dua kali lipat.
Di sisi lain, pelaku industri makanan dan minuman tidak bisa serta-merta menaikkan harga produk setara dengan kenaikan biaya kemasan.
Pasalnya, jika kontribusi kemasan plastik mencapai sekitar 25 persen dari harga produk, maka kenaikan harga jual akan menjadi sangat tinggi dan berisiko menurunkan daya beli konsumen.
Meski begitu, Adhi mengungkapkan sebagian pelaku usaha sudah mulai menyesuaikan harga produk akibat lonjakan biaya tersebut. Ia juga menerima laporan bahwa harga sejumlah komoditas seperti beras dan minyak goreng mulai mengalami kenaikan karena terdampak biaya kemasan plastik.
"Itu bukan (harga) barang yang naik, tapi kemasannya yang naik, sehingga ini terjadi kenaikan di pasar," ujar Adhi. (hm20)



















