Harga Plastik Meroket di Siantar Timbulkan Efek Domino

Toko plastik. (Foto: Miftahul Ilma/Kaltengpos.Jawapos.com)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Harga berbagai jenis plastik melonjak drastis hingga menyentuh angka 100 persen di berbagai wilayah Indonesia. Tidak terkecuali di Pematangsiantar. Lonjakan ini dinilai sebagai dampak langsung dari memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Akademisi Universitas Simalungun (USI), Raja Mangaratua Nainggolan, mengatakan berdasarkan data terbaru, fluktuasi harga berkisar antara 30 persen hingga dua kali lipat dari harga normal.
Menurut Raja, kenaikan harga ini dipicu karena mahalnya bahan baku plastik, yakni nafta. Hingga saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku dari kawasan Timur Tengah.
"Kawasan tersebut adalah pusat produksi minyak dan petrokimia dunia. Ketika terjadi ketegangan atau perang, otomatis produksi dan distribusi terganggu," ujar Raja kepada Mistar, Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan, gangguan pengiriman distribusi di Selat Hormuz memperparah pasokan global. Akibatnya, bahan baku tidak hanya mahal, tetapi juga sulit didapat.
Kenaikan harga plastik memiliki efek domino terhadap barang konsumsi. Karena hampir semua produk menggunakan kemasan plastik, produsen terpaksa menaikkan harga jual akibat tekanan biaya produksi (cost-push inflation).
"Masalahnya, pendapatan masyarakat tidak naik secepat itu. Akhirnya daya beli mulai tertekan. Uang yang sama sekarang mendapatkan barang yang lebih sedikit," ujarnya.
Raja menjelaskan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di bidang makanan dan minuman, menjadi pihak yang paling terdampak. Pelaku usaha kini dihadapkan pada pilihan sulit.
"Menaikkan harga berisiko kehilangan pembeli, jika tetap pada harga lama Keuntungan semakin menipis. Strategi bertahan, mengecilkan ukuran produk (shrinkflation) atau menurunkan kualitas kemasan," ucapnya.
Raja memperingatkan jika kondisi ini dibiarkan tanpa solusi jangka panjang, keberlangsungan usaha kecil di tingkat lokal bisa terancam.
Sebagai langkah mitigasi, Raja menyarankan beberapa hal strategis, Pemerintah Kota Pematangsiantar, segera melakukan pengawasan distribusi untuk menjaga stabilitas harga dan memberikan dukungan nyata bagi pelaku UMKM.
Untuk itu masyarakat mulai beradaptasi dengan lebih bijak dalam penggunaan plastik atau beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Pemerintah pusat perlu mengurangi ketergantungan impor bahan baku petrokimia agar ekonomi nasional lebih tahan terhadap gejolak global.
"Kenaikan harga plastik ini kelihatannya sederhana, tapi akarnya berkaitan erat dengan kondisi global. Perlu perhatian serius agar dampaknya tidak semakin meluas bagi ekonomi lokal," tuturnya. (hm20)


















