Pasar Horas Bocor Berbulan-bulan, Pedagang Minta Aksi Nyata Pemko Siantar

Atap Pasar Horas di Pematangsiantar bocor. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Di balik hingar-bingar wacana pembangunan Kota Pematangsiantar, potret pilu justru terjadi di Gedung Satu Pasar Horas. Bukannya mendapat kenyamanan selama mencari rezeki, para pedagang justru harus diguyur hujan, hingga menanggung kerugian akibat atap gedung yang bocor sudah berbulan-bulan.
Pemandangan memilukan pecah saat hujan deras mengguyur Kota Siantar. Salah satu pedagang di Gedung Satu, Elida Sidauruk, tak mampu lagi membendung air matanya saat tumpukan dagangannya sudah basah kuyup. Ia merasa betapa berat beban hidupnya.
"Setiap hujan kami tidak bisa berjualan. Padahal kami di sini mencari makan untuk menyekolahkan anak-anak kami. Setiap hari saya menangis," ucap Elida kepada Mistar, Selasa (14/4/2026).
Kekecewaan Elida bukan tanpa alasan. Di tengah kondisi pasar yang tidak layak, ia tetap dipaksa memenuhi kewajiban retribusi, meski pendapatan harian jauh dari kata cukup.
"Ketimpangan pendapatan dengan retribusi, pendapatan harian sekitar Rp60.000. Biaya retribusi Rp8.000 per hari. Sementara beban hidup seperti biaya sekolah untuk empat orang anak," ucapnya.
"Apa respons Pemerintah Kota Pematangsiantar? Atap Gedung Satu bocor, minta tolong diperbaiki, Pak! Barang-barang saya seperti bawang dan cabai basah. Apalagi sekarang bawang mahal, ada dua karung lebih yang basah. Sudah jualan sepi, ditambah lagi bocor seperti ini," katanya.
Elida mengaku sudah berulang kali melaporkan kerusakan atap tersebut kepada petugas Pasar Horas di lapangan. Namun, hingga detik ini, keluhan tersebut seolah dianggap angin lalu.
“Sikap abai dari pengelola pasar dan pemerintah setempat menimbulkan pertanyaan besar. Ke mana perginya uang retribusi yang dipungut setiap hari jika fasilitas dasar seperti atap saja tidak mampu diperbaiki,” ujarnya.
Masih dikatakan Elida, lambannya perbaikan atap bocor Pasar Horas menjadi bukti nyata lambannya kinerja birokrasi dalam menangani infrastruktur publik yang vital bagi ekonomi rakyat kecil.
"Kami rugi finansial karena kehilangan modal jika bawang dan cabai busuk kena air hujan. Pedagang kesulitan membiayai sekolah anak akibat pendapatan yang merosot. Kami para pedagang mulai meragukan komitmen Pemko dalam menyejahterakan rakyat kecil," ujarnya.
Para pedagang, disebutkan Elida, tidak lagi butuh janji atau sekadar peninjauan lokasi. Mereka butuh aksi nyata berupa perbaikan atap secara menyeluruh. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin satu per satu pedagang akan gulung tikar. Pada akhirnya akan menambah daftar panjang kemiskinan di Kota Pematangsiantar.
"Pemerintah Kota Pematangsiantar yang ada saat ini, dituntut segera turun tangan. Jangan sampai air mata saya dan rekan-rekannya menjadi saksi bisu kegagalan pemerintah dalam mengelola fasilitas publik yang paling mendasar," tuturnya. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Plastik Meroket di Siantar Timbulkan Efek Domino























