Wednesday, June 24, 2026
home_banner_first
MEDAN

Zamatra AI Fest #1 Angkat Sejarah Sumut Lewat Teknologi Kecerdasan Buatan

Mistar.idKamis, 7 Mei 2026 pukul 07.01 WIB
zamatra_ai_fest_1_angkat_sejarah_sumut_lewat_teknologi_kecerdasan_buatan

Foto bersama usai konferensi pers (foto:Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan digunakan untuk menelusuri kembali jejak sejarah dan kebudayaan Sumatera Utara dalam ajang Zamatra AI Fest #1 yang digelar pada Jumat-Sabtu, 22–23 Mei 2026, di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti, Medan Petisah.

Kegiatan yang digagas Bayu Rahmad Putra ini mengusung tema “Restorasi Hulu Hilir Sumatera Utara”. Festival tersebut menawarkan pendekatan berbeda dalam mengenalkan warisan budaya daerah melalui karya visual berbasis AI yang menggabungkan sejarah masa lalu dengan imajinasi masa depan.

“Nama Zamatra ini merupakan salah satu sebutan lain dari Sumatera, selain Taprobana, Percha, dan Suwarnabhumi,” katanya dalam konferensi pers di Medan Petisah, Rabu (6/5/2026).

Bayu menjelaskan, dalam narasi festival ini, Sumatera digambarkan sebagai pulau yang sejak lama dikenal dunia karena kekayaan alamnya seperti kapur barus dan kemenyan, serta memiliki jejak peradaban besar, mulai dari kawasan Danau Toba, kerajaan-kerajaan tua di pesisir timur, hingga situs Kota Cina di Medan.

Melalui festival ini, pengunjung diajak melihat bagaimana AI dapat merekonstruksi kisah-kisah yang telah hilang atau rusak dimakan waktu. Sejarah, lanskap alam, adat istiadat, hingga ritus sakral masyarakat Sumut akan dihadirkan kembali dalam bentuk karya digital.

“AI memang bukan nabi, apalagi Tuhan. Ia adalah program yang diciptakan manusia. Namun saat ini, kemampuannya berkembang sangat pesat hingga memunculkan berbagai kekhawatiran di tengah masyarakat,” tuturnya.

Selain pameran, sejumlah agenda juga disiapkan, seperti Keliling Hulu Hilir Sumut, Focus Group Discussion (FGD), seminar AI, dialog lintas gagasan, bengkel AI, panggung AI, serta pameran karya kreatif berbasis kecerdasan buatan.

Bayu menilai AI bukan sekadar alat teknologi, melainkan medium baru yang mampu membuka cara pandang berbeda terhadap masa lalu dan masa depan. Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan seiring dengan pelestarian identitas budaya.

“Saya teringat saat terjadi pergeseran dari sesuatu yang manual ke digital, seperti dari kompor minyak tanah ke kompor gas, atau dari mesin tik ke laptop. Perubahan-perubahan ini turut memengaruhi cara hidup manusia,” katanya.

Festival ini juga menjadi ruang diskusi mengenai dampak AI terhadap perubahan gaya hidup. Di tengah kekhawatiran bahwa teknologi akan menggantikan peran manusia, Zamatra AI Fest #1 justru ingin menunjukkan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk berkarya dan membuka pendekatan baru dalam menelusuri jejak budaya leluhur.

“Penggunaan AI memang mengubah banyak hal, tetapi di sisi lain juga mempermudah berbagai aktivitas manusia. AI mampu menghadirkan perspektif lintas waktu dalam satu ruang kreativitas,” ujar Bayu.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN