Silvia Gea, Pegiat Lingkungan Sumut, Fokus Kelola Sampah dan Edukasi Generasi Muda

Pegiat Lingkungan Silvia Decmerry Natalia Gea berusia 23 tahun yang kini banyak mencatatkan prestasi di bidang lingkungan. Silvia mengaku menjadi aktivis yang fokus di bidang lingkungan karena keresahan yang dilihatnya di kampung halamannya Gunungsitoli. (Foto: Iqbal/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
"Kalau kita baik sama alam, alam akan lebih baik lagi sama kita," tutur Silvia Gea, pegiat lingkungan asal Sumatera Utara, ketika berbincang dengan Mistar, Minggu (15/2/2025) pagi.
Penggalan kalimat itu selalu disampaikan Silvia dalam berbagai acara lingkungan. Aktivis muda ini sejak sekolah telah mendapatkan doktrin pentingnya menjaga alam dan lingkungan.
"Awalnya sih karena aku asal Gunungsitoli, Nias. Banyak tempat bagus karena daerah pesisir, tapi sampahnya banyak. Dari situlah keresahan aku terhadap lingkungan muncul," katanya.
Berangkat dari hal itu, Silvia yang saat itu berusia 16 tahun memutuskan bergabung dengan World CleanUp Day (WCD), salah satu gerakan bersih-bersih terbesar di dunia. Tidak tanggung-tanggung, Silvia langsung menjadi leader.
Baca Juga: Pegiat Lingkungan Wilmar Simanjorang Laporkan Kebakaran Lahan Konservasi ke Polres Samosir
"Aku yakin daerah aku ini potensial besar, tapi orangnya kurang peduli. Jadi di WCD aku dulu menjadi leader termuda di Sumut, dan itu pertama kali aku terjun ke dunia lingkungan," ucap gadis kelahiran 2002 itu.
"Sejak itu kami mulai melakukan aksi bersih-bersih di Gunungsitoli. Puncaknya, tahun 2023 aku jadi leader WCD di Sumut dan kemarin mengadakan kegiatan bersih-bersih di Istana Maimun dan sekitarnya," tambahnya.
Silvia Decmerry Natalia Gea mengaku mendapat ajaran ketat terkait lingkungan dari kedua orang tuanya sejak kecil. Ibunya bekerja di BMKG, fokus pada iklim, sedangkan ayahnya di perbankan.
"Mama itu orang BMKG jadi fokus ke iklim, papa di perbankan. Tapi sejak kecil, mereka sudah mengajarkan pentingnya lingkungan. Kalau lihat orang buang sampah sembarangan, aku langsung mikir, kok tega ya," ujarnya.
Kini, Silvia berumur 23 tahun dan semakin matang memahami dunia lingkungan. Saat kuliah di HKBP Nommensen, Silvia meneliti topik lingkungan.
"Tahun 2023, aku meneliti skripsi berjudul 'Implementasi Pengelolaan Sampah di Kota Medan'. Dari situ aku paham, sampah jika dikelola dengan baik bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," jelasnya.
Prestasinya pun gemilang. Silvia pernah dianugerahi Pemimpin Muda Untuk Iklim 2024 dan Pemimpin Muda Inspiratif Indonesia 2025, berkat fokus dan kontribusinya di dunia lingkungan.
"Selama berkegiatan di dunia lingkungan, banyak hal berdampak dalam hidupku, mulai dari relasi, pengetahuan, penghargaan, sampai kolaborasi dengan perusahaan," tuturnya.
Masih muda, namun tekadnya untuk menjaga lingkungan tetap kuat. Silvia memiliki rencana jangka panjang, termasuk kemungkinan menjadi Menteri Lingkungan.
"Apapun karirku ke depan, aku tidak akan meninggalkan dunia lingkungan. Bahkan di tempat aku bekerja sekarang, aku sering membuat kegiatan sosial berbau lingkungan," katanya.
Wanita yang mengidolakan Cinta Laura dan Maudy Ayunda itu juga menyalurkan kebermanfaatannya bagi masyarakat melalui rencana jangka pendek.
"Aku ingin lanjut pendidikan ke luar negeri, mungkin cari beasiswa. Sekarang aku juga bekerja sama dengan salah satu hotel di Medan untuk mengelola sampah mereka, lalu diubah menjadi sesuatu bermanfaat bagi masyarakat. Pihak hotel menyambut baik," jelasnya.
Tak ingin berjalan sendiri, Silvia mengajak semua pemuda berkontribusi menjaga alam dari hal-hal kecil. Sebagai pendiri platform edukasi EcoEducare, ia berharap lahir generasi yang peduli lingkungan.
"Harapanku, teman-teman semakin peka dengan isu lingkungan tempat kita hidup. Kita harus mencintai lingkungan agar mendapatkan kebaikan dari alam," ujarnya.
BERITA TERPOPULER





















