Friday, June 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Minimnya Edukasi Kesiapsiagaan Bencana di Masyarakat Masih Jadi Tantangan Besar

Mistar.idSelasa, 10 Maret 2026 13.10
AN
SH
minimnya_edukasi_kesiapsiagaan_bencana_di_masyarakat_masih_jadi_tantangan_besar

Foto bersama usai kegiatan diskusi. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Minimnya edukasi dan sosialisasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat menjadi tantangan besar dalam upaya mitigasi bencana di Indonesia.

Hal ini disampaikan Ketua Tim Kerja Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, Muhammad Yamin Daulay, dalam Focus Group Discussion (FGD) lintas agama yang digelar Komunitas Seabolga melalui The Bloom Project di Aula Jabal Nur Asrama Haji Medan.

Yamin mengatakan Indonesia, termasuk wilayah Sumatra, merupakan kawasan dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Menurutnya, peningkatan bencana salah satunya dipicu oleh cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah belum tersampaikannya edukasi kesiapsiagaan secara menyeluruh kepada masyarakat. Selama ini, sebutnya, upaya yang dilakukan masih sebatas imbauan tanpa diikuti praktik kesiapsiagaan yang masif.

“Selama ini hanya sebatas imbauan, sementara bagaimana melakukan kesiapsiagaan belum dilakukan secara masif,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Yamin menegaskan bahwa penanganan dan mitigasi bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga media untuk membangun kesadaran bersama terhadap risiko bencana.

“Masyarakat harus punya kesadaran dan kepedulian tentang bencana. Salah satunya melalui upaya sederhana seperti menjaga lingkungan dan keseimbangan alam,” tuturnya.

FGD Harmoni untuk Bumi itu mengangkat tema Safe and Climate Resilient Shelters in Medan 2026, yang membahas isu perubahan iklim dan kebencanaan, serta pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

The Bloom Project sendiri merupakan salah satu partisipan dalam program Harmony in Action yang diinisiasi oleh Wahid Foundation dan Temasek Foundation. Program ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kolaborasi lintas agama dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

Diskusi ini melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari perwakilan lintas agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu, kemudian tokoh perempuan dan pemuda, organisasi masyarakat sipil, serta sejumlah pemangku kepentingan.

Peserta juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi kebencanaan di masyarakat. Selain itu, muncul gagasan pemanfaatan rumah ibadah sebagai tempat perlindungan sementara ketika bencana terjadi.

Salah satu peserta, Hadonia Lazarus Manurung, menilai diskusi ini penting karena mampu mempertemukan berbagai perspektif dalam upaya mitigasi bencana.

“Diskusi semacam ini dapat membantu merumuskan situasi yang ideal, terutama dalam memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi terhadap bencana,” kata peserta dari Komunitas Setara Berdaya itu. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN