Sunday, June 7, 2026
home_banner_first
MEDAN

Kisah Pak Rusli, Nelayan yang Pertaruhkan Nyawa di Laut Demi Nafkahi Keluarga

Mistar.idMinggu, 7 Juni 2026 13.14
journalist-avatar-top
KP
kisah_pak_rusli_nelayan_yang_pertaruhkan_nyawa_di_laut_demi_nafkahi_keluarga

Perahu bermotor yang dipergunakan nelayan kecil untuk mencari ikan. (foto:kamaluddin/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menjadi tulang punggung keluarga, seorang nelayan harus berjuang menghadapi besarnya gelombang di tengah lautan dengan nyawa sebagai taruhannya.

Seperti diutarakan salah seorang nelayan, Pak Rusli (52), warga Kisaran yang menetap sementara di kawasan Belawan. Saat ditemui MISTAR, Minggu (7/6/2026), di kawasan Bagan Deli, ia menyebutkan bahwa seorang nelayan yang akan berangkat ke laut untuk mencari ikan sudah pasrah dengan nasibnya selama berada di tengah lautan. Hanya doa istri dan anak-anak yang menyertainya demi menjaga periuk nasi keluarga.

Hari masih gelap saat raungan mesin perahu motornya terdengar keras. Dengan ditemani lima orang dalam satu perahu motor, mereka terlebih dahulu mengadakan ritual kecil berupa doa bersama untuk keselamatan selama perjalanan.

Mereka mencari ikan di tengah ombak dan terpaan angin kencang di laut lepas. Biasanya, mereka berangkat pukul 02.00 WIB dan kembali ke pangkalan sekitar pukul 18.00 WIB keesokan harinya. Namun, jadwal perjalanan bisa berubah tergantung kondisi cuaca di laut.

Rutinitas tersebut telah dijalani Pak Rusli selama sekitar 17 tahun. Meski menyadari risiko besar yang dihadapi, pekerjaan itu tetap dilakoninya demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Saat ini, ia harus menghidupi istri dan tiga anaknya yang masih bersekolah.

Ketika disinggung mengenai hasil yang diperoleh dalam sekali melaut, Pak Rusli menjawab dengan nada sedih bahwa pendapatannya tidak menentu.

"Kalau lagi ada rezeki, hasil bersih bisa mencapai Rp300.000 per orang. Tapi kalau ombak besar dan angin kencang, kami hanya mendapatkan sekitar Rp100.000 per orang. Kadang-kadang juga zonk, hanya cukup untuk menutupi biaya operasional perjalanan saja," ujarnya sambil memperbaiki jaring ikannya.

"Ya beginilah nasib nelayan kecil," kata Pak Rusli mengakhiri keterangannya. (hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN