Friday, July 10, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Kurang Terpapar Sinar Matahari Meningkatkan Risiko Berbagai Penyakit

Mistar.idRabu, 24 Desember 2025 pukul 05.30 WIB
kurang_terpapar_sinar_matahari_meningkatkan_risiko_berbagai_penyakit

Ilustrasi. (Foto: Pixel.com)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Paparan sinar matahari kerap dipandang sebelah mata dan bahkan dianggap berisiko, padahal manfaatnya bagi kesehatan tubuh sangat besar. Selain berperan dalam memperbaiki suasana hati, sinar matahari juga membantu menjaga fungsi tubuh dan menurunkan risiko sejumlah penyakit.

Sayangnya, masih banyak orang yang enggan beraktivitas di luar ruangan karena khawatir terhadap dampak sinar matahari, sehingga asupan cahaya alami yang diterima tubuh menjadi tidak optimal.

Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Christy Efiyanti, menjelaskan bahwa individu yang secara rutin terpapar sinar matahari memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular (PKV), serta angka kematian akibat penyebab non-kanker dan non-PKV yang lebih kecil.

Ia menyebutkan, berbagai studi menunjukkan bahwa kurangnya paparan sinar matahari dapat meningkatkan risiko kematian secara signifikan.

“Sejumlah penelitian dalam sepuluh tahun terakhir memperkirakan bahwa kurangnya paparan sinar matahari berkontribusi terhadap sekitar 340 ribu kematian per tahun di Amerika Serikat dan 480 ribu kematian di Eropa,” ujarnya, dikutip dari detikhealth, Rabu (24/12/2025).

Kondisi minim paparan matahari juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit, mulai dari kanker payudara dan kanker kolorektal, hipertensi, penyakit jantung, sindrom metabolik, hingga gangguan neurologis seperti multiple sclerosis, Alzheimer, dan autisme.

Christy menambahkan, sinar matahari berperan penting dalam membantu tubuh memproduksi vitamin D, yang dibutuhkan untuk menjaga daya tahan tubuh, kesehatan tulang, serta keseimbangan metabolisme.

“Paparan sinar matahari yang cukup dapat meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh. Sebaliknya, kekurangan vitamin D sering ditemukan pada mereka yang jarang beraktivitas di luar ruangan,” jelasnya.

Waktu ideal untuk berjemur

Menurut Christy, kebutuhan paparan sinar matahari berbeda-beda pada setiap orang. Faktor seperti waktu berjemur, musim, letak geografis, cuaca, serta warna kulit turut memengaruhi durasi yang dibutuhkan.

“Melanin sebagai pigmen alami kulit berfungsi melindungi tubuh dan memengaruhi seberapa banyak sinar ultraviolet B (UVB) yang dapat diserap. Secara umum, individu dengan kulit cerah membutuhkan paparan selama 5 hingga 15 menit, sebanyak dua sampai tiga kali dalam sepekan,” paparnya.

Beberapa studi di Inggris merekomendasikan berjemur selama 9–13 menit pada waktu makan siang, khususnya antara bulan Maret hingga September. Sementara itu, penelitian yang dilakukan Prof. Siti Setiati di Indonesia menunjukkan bahwa paparan sinar UVB selama 25 menit, tiga kali seminggu selama enam minggu, mampu meningkatkan kadar vitamin D secara signifikan.

Christy pun mengajak masyarakat untuk tidak berlebihan dalam menghindari sinar matahari.

“Perbanyak aktivitas di luar ruangan dan biasakan berjemur setiap hari. Jangan lupa juga untuk memeriksa kadar vitamin D secara berkala,” tuturnya. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN