Ilmuwan Temukan Bakteri di Usus Bayi yang Bisa Tekan Risiko Asma dan Alergi

Bakteri Bifidobacterium. (Foto: DepositPhotos)
Denmark, MISTAR.ID
Penelitian terbaru dari Denmark Technical University (DTU) menemukan bahwa zat yang diproduksi bakteri bifidobacterium berpotensi menurunkan risiko asma dan alergi pada bayi.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Microbiology pada Januari 2026 itu menunjukkan bahwa bayi yang sejak dini terkolonisasi bifidobacterium tertentu cenderung memiliki daya tahan lebih baik terhadap penyakit alergi.
Bifidobacterium merupakan kelompok bakteri asam laktat yang hidup di usus besar manusia dan berperan penting dalam pencernaan, penyerapan nutrisi, serta mendukung sistem imun.
Pemimpin penelitian, Susanne Brix Pedersen, menyatakan temuan ini membuka peluang strategi pencegahan baru.
“Jika pengetahuan ini dapat diterjemahkan ke dalam strategi pencegahan, misalnya melalui suplemen probiotik atau susu formula yang diperkaya, ini akan menjadi langkah maju yang besar,” ujarnya.
Penelitian tersebut melibatkan 147 bayi yang diamati sejak lahir hingga usia lima tahun, dengan data yang berasal dari tiga kohort besar di Swedia, Jerman, dan Australia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat utama berasal dari metabolit yang dihasilkan bifidobacterium. Salah satu senyawa kunci yang ditemukan adalah 4-hydroxyphenyl lactate (4-OH-PLA), yang mampu menekan respons berlebihan sistem imun terhadap alergen.
Dalam uji laboratorium menggunakan sel imun manusia, senyawa tersebut terbukti dapat menurunkan produksi imunoglobulin E (IgE), antibodi yang berperan penting dalam reaksi alergi, hingga 60 persen tanpa memengaruhi antibodi lain.
Peneliti DTU Bioengineering, Rasmus Kaae Dehli, menjelaskan bifidobacterium dapat diperoleh bayi secara alami. Bayi yang lahir secara normal memiliki kemungkinan lebih tinggi terpapar bakteri ini, serta didukung oleh pemberian ASI eksklusif dan interaksi dengan lingkungan sekitar.
Namun, perubahan gaya hidup modern membuat keberadaan bifidobacterium semakin berkurang. Karena itu, peneliti menilai perlu adanya upaya tambahan, seperti pengembangan suplemen untuk ibu menyusui atau fortifikasi susu formula.
Meski demikian, para peneliti menegaskan pendekatan tersebut masih bersifat pencegahan. Untuk pengobatan asma dan alergi, diperlukan penelitian lanjutan dan uji klinis yang diperkirakan memakan waktu hingga 10 tahun. (hm25)
NEXT ARTICLE
Tips Biar Badan Rileks Lagi Setelah Mudik





















