Friday, July 3, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

357 Kasus Malaria Monyet Pada Manusia Terjadi di Malaysia

Mistar.idRabu, 13 Mei 2026 pukul 15.20 WIB
357_kasus_malaria_monyet_pada_manusia_terjadi_di_malaysia

Monyet. (Foto: Patrik Lumintu/Shutterstock)

news_banner

Sabah, MISTAR.ID

Plasmodium knowlesi malaria atau yang dikenal sebagai malaria monyet mulai mendapat perhatian di kawasan Asia Tenggara. Hingga awal Mei 2026, otoritas kesehatan di Sabah mencatat 357 kasus pada manusia dengan satu kematian sampai pekan epidemiologi ke-16.

Di Malaysia, Menteri Kesehatan Dzulkefly Ahmad menyebut distrik Tawau, Ranau, dan Kudat sebagai wilayah dengan kontribusi kasus tertinggi di Sabah.

"Semua klinik dan rumah sakit pemerintah dapat mendeteksi malaria monyet," kata Dzulkefly.

Ia menjelaskan bahwa meningkatnya aktivitas manusia di habitat satwa liar memperbesar kontak dengan monyet dan meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis.

Dzulkefly juga mendorong pengelolaan limbah yang baik, pembukaan lahan secara terkendali, serta pengawasan lintas instansi untuk mengurangi potensi penyebaran.

Selain itu, pemerintah Malaysia membentuk gugus tugas lintas kementerian untuk mengatasi kekurangan dokter dan tenaga spesialis. Sebanyak 42 dokter muda telah ditempatkan di Duchess of Kent Hospital di Sandakan.

Sementara itu di Indonesia, kasus penularan pada manusia dilaporkan di Kabupaten Aceh Jaya. Dinas Kesehatan setempat menemukan 30 kasus hingga April 2026.

Malaria monyet merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari monyet ke manusia melalui gigitan nyamuk. Penyebab terseringnya adalah parasit Plasmodium knowlesi infection.

"Tiga puluh kasus malaria tersebut jenis malaria probable knowlesi, yaitu jenis malaria yang ditularkan dari monyet ke manusia," kata Kabid P2P Dinkes Aceh Jaya, Vera Asprianti, dilansir dari CNN Indonesia.

Menurut Vera, malaria jenis ini dapat berkembang lebih cepat dibanding malaria vivax dan berpotensi menyebabkan kondisi fatal bila tidak segera ditangani.

"Jenis probable knowlesi ini juga sama fatal dengan jenis malaria lainnya. Jika tidak dilakukan penangan cepat, bisa menyebabkan kematian karena proses pengembangan parasitnya lebih cepat dari malaria jenis vivax," ujarnya.

Untuk menekan penyebaran, Dinas Kesehatan Aceh Jaya menjalin kerja sama lintas sektor, khususnya di wilayah tambang dan perkebunan kelapa sawit yang menjadi klaster penularan.

"Kita juga mempersiapkan segala jenis kebutuhan logistik guna penanganan malaria, termasuk tenaga laboratorium kompeten, sehingga mampu mendeteksi malaria dengan cepat," kata Vera. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN