Ratko Mladic Meninggal, Jurnalis BBC Kenang Luka Perang Bosnia

Jenderal Ratko Mladic saat memimpin pasukan Serbia Bosnia. (foto: Reuters via BBC)
Den Haag, MISTAR.ID - Kematian mantan komandan militer Serbia Bosnia Ratko Mladic pada usia 84 tahun kembali membangkitkan ingatan akan kekejaman Perang Bosnia. Bagi koresponden khusus BBC Allan Little, kematian pria berjuluk “Jagal Bosnia” itu juga menghidupkan kembali kenangan pertemuannya dengan Mladić pada awal perang lebih dari tiga dekade lalu.
Dalam tulisan khusus yang diterbitkan BBC, Kamis (27/8/2026), Allan menceritakan pertemuannya dengan Mladić pada musim panas pertama Perang Bosnia pada 1992. Saat itu, ia meliput langsung pecahnya Yugoslavia dan menyaksikan konflik berkembang menjadi pengusiran massal serta pembersihan etnis.
Pertemuan tersebut berlangsung di barak Lukavica, di pinggiran selatan Sarajevo. Kawasan itu dipenuhi senjata dan kelompok paramiliter. Menurut Allan, senapan Kalashnikov ketika itu dapat dibeli seharga 200 dolar AS, sementara sebuah granat tangan hanya sekitar satu dolar.
Mladic baru kembali dari garis depan Sarajevo ketika mereka bertemu. Ia menggenggam tangan Allan erat dan menarik sang jurnalis mendekat.
Kepada Allan, Mladic menggambarkan dirinya sebagai pembela persaudaraan dan persatuan bekas Yugoslavia. Ia bahkan berbicara mengenai impiannya tentang dunia tanpa senjata dan peperangan.
Namun, kesan yang ditangkap Allan justru sebaliknya.
Ia melihat Mladic sebagai sosok “fanatik dan berbahaya”. Penilaian itu kemudian terasa semakin nyata ketika pasukan di bawah komando Mladic terlibat dalam pembunuhan massal, pemerkosaan, pengusiran paksa, dan pembersihan etnis selama perang.
“Saya Seorang Musisi”
Allan juga mengenang salah satu peristiwa yang menurutnya menggambarkan bagaimana perang mereduksi manusia hanya berdasarkan identitas etnis.
Suatu pagi, ia melihat puluhan ribu orang keluar dari kawasan hutan setelah terusir dari tempat tinggal mereka akibat serangan pasukan Serbia Bosnia. Sebagian berjalan kaki, sementara lainnya menumpang kendaraan pertanian sederhana.
Di antara para pengungsi itu terdapat seorang pria berusia 80 tahun yang telah terpisah dari istrinya.
Allan kemudian bertanya apakah pria tersebut seorang Kroasia atau Muslim Bosnia.
Jawaban pria itu terus membekas dalam ingatan Allan hingga puluhan tahun kemudian.
“Saya seorang musisi,” jawab pria itu kepada Allan.
“Penyederhanaan identitas etnis yang biasa kami gunakan mereduksi mereka hanya menjadi orang Serbia, Kroasia, dan Muslim. Padahal, mereka juga adalah musisi, ilmuwan, dokter, tukang ledeng, petani, ibu, ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, dan sangat sering, anak-anak,” tulis Allan dalam artikelnya.
Kamerawan Tewas Ditembak
Perang Bosnia juga menyentuh Allan secara personal. Dua hari setelah pertemuannya dengan pengungsi lanjut usia tersebut, kamerawan yang bekerja bersamanya, Tihomir Tunukovic, tewas ditembak pasukan Serbia.
Tunukovic baru berusia 25 tahun dan merupakan pembuat film muda asal Zagreb. Allan dan rekannya kemudian membawa jenazah Tunukovic menuju Split untuk dimakamkan.
“Jenderal Mladic memang tidak menarik pelatuk, tetapi komandonya menciptakan iklim pembiaran tanpa kendali yang menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan nyawa,” tulis Allan.
Puncak kekejaman pasukan Serbia Bosnia terjadi di Srebrenica pada Juli 1995, ketika lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia dibunuh. Pembantaian tersebut kemudian dinyatakan sebagai genosida oleh pengadilan internasional.
Mladic juga memimpin pasukan Serbia Bosnia selama pengepungan Sarajevo. Ribuan warga sipil tewas akibat tembakan artileri, mortir, dan penembak jitu selama perang 1992-1995.
Mladic akhirnya ditangkap pada 2011 setelah bertahun-tahun menjadi buronan. Pada 2017, pengadilan kejahatan perang PBB menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepadanya atas genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang.
Ia meninggal dalam tahanan PBB di Den Haag, Belanda, pada Kamis (27/8/2026), dalam usia 84 tahun. (*/BBC/Allan Little)























