Presiden Lebanon: Serangan Udara Israel Bukti Abaikan Seruan Hentikan Agresi

Serangan udara Israel ke selatan Beirut. (Foto: AFP/Ibrahim Amro)
Beirut, MISTAR.ID
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras serangan udara Israel yang menghantam pinggiran selatan Beirut pada Minggu (23/11/2025). Serangan tersebut menewaskan lima orang dan melukai 28 lainnya.
Israel mengklaim serangan itu menargetkan kepala staf Hizbullah, Ali Tabatabai yang kemudian dikonfirmasi tewas oleh Hizbullah.
Aoun menyatakan serangan terbaru ini semakin menunjukkan bahwa Israel mengabaikan seruan internasional untuk menghentikan agresi terhadap Lebanon.
Ia menegaskan tindakan Israel berlangsung tepat pada Hari Kemerdekaan Lebanon ke-82, memperlihatkan penolakan terhadap penerapan resolusi internasional dan upaya diplomatik menghentikan eskalasi di kawasan.
“Lebanon telah mematuhi penghentian permusuhan selama hampir satu tahun dan berulang kali mengajukan inisiatif menjaga ketenangan,” tutur Aoun.
Ia kembali meminta komunitas internasional mengambil sikap tegas guna menghentikan serangan dan mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.
Sebelumnya, pada Jumat (21/11/2025), Aoun menyatakan Lebanon siap bernegosiasi dengan Israel di bawah naungan PBB, AS atau pihak internasional bersama untuk mencapai penghentian serangan lintas batas secara permanen.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam turut mengutuk serangan tersebut. Ia menyerukan persatuan nasional dan menyatakan pemerintah akan memaksimalkan jalur politik dan diplomatik untuk melindungi warga sipil serta mencegah eskalasi lebih jauh.
Salam menegaskan stabilitas hanya dapat dicapai melalui implementasi penuh Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, termasuk pembentukan zona bebas senjata dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Sejak gencatan senjata berlaku pada 27 November 2024, ketegangan terus meningkat dengan serangan udara Israel hampir setiap hari menargetkan wilayah Lebanon selatan.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, sedikitnya 331 orang tewas dan 945 lainnya terluka akibat tembakan Israel. UNIFIL juga melaporkan lebih dari 10.000 pelanggaran udara dan darat oleh Israel.
Di bawah kesepakatan gencatan senjata, pasukan Israel seharusnya mundur sepenuhnya dari Lebanon selatan pada Januari ini, namun hingga kini baru sebagian yang ditarik dan Israel masih mempertahankan lima pos militer di perbatasan. (hm25)






















