Pakar Sebut Serangan Rudal Iran dan Hizbullah ke Israel Terkoordinasi, Taktik Baru Lemahkan Iron Dome

Peluncuran rudal Khorramshahr (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Serangan rudal besar yang menghantam sejumlah wilayah di Israel dinilai para analis militer sebagai operasi yang terkoordinasi antara Iran dan kelompok bersenjata Hizbullah di Lebanon. Serangan tersebut menargetkan berbagai kota di wilayah utara dan tengah Israel, termasuk Kiryat Shmona, Haifa, Nahariya, dan Gilboa.
Dilaporkan oleh Al Jazeera pada Kamis (12/3/2026), serangan rudal dari Iran dan Lebanon menunjukkan kemampuan koordinasi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Para ahli menilai peluncuran dilakukan secara simultan dengan taktik ganda untuk melemahkan sistem pertahanan udara Israel.
Strategi tersebut diduga bertujuan mengalihkan perhatian sistem pertahanan Iron Dome dengan sejumlah rudal, sementara rudal presisi lainnya diarahkan ke target strategis di wilayah Israel.
Pakar: Iran Belum Keluarkan Seluruh Kemampuan Militernya
Profesor Studi Iran dan Timur Tengah dari Australian National University, Alam Saleh, mengatakan serangan yang terjadi saat ini kemungkinan belum mencerminkan seluruh kemampuan militer Iran.
Menurutnya, Teheran masih memiliki berbagai opsi strategis yang belum digunakan. Iran juga belum melibatkan sekutu regional lainnya seperti kelompok Houthi di Yaman maupun milisi di Irak.
Saleh menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa Iran masih menyimpan berbagai kartu strategis untuk digunakan pada fase konflik berikutnya.
Ia juga menyoroti pentingnya jalur pelayaran internasional seperti Selat Bab al-Mandab dalam perhitungan geopolitik kawasan. Jalur laut tersebut memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi global.
Perang Atrisi Jadi Strategi Iran
Para analis juga menilai Iran kemungkinan mengandalkan strategi perang atrisi atau perang pengurasan kekuatan. Strategi ini bertujuan melemahkan lawan secara bertahap melalui tekanan militer yang terus-menerus.
Penulis dan analis politik Lebanon Amin Qamouriya menilai posisi geografis Iran memberi keuntungan strategis dalam konflik regional. Negara tersebut memiliki jaringan sekutu di berbagai wilayah yang memungkinkan operasi militer dilakukan di lebih dari satu front.
Menurutnya, pengalaman Iran selama puluhan tahun menghadapi sanksi dan tekanan internasional membuat negara tersebut terbiasa menghadapi konflik jangka panjang.
Di sisi lain, konflik berkepanjangan dapat memberi tekanan terhadap masyarakat serta perekonomian Israel.
Muncul Istilah “Hizbullah 2.0”
Analis militer Elias Hanna menggambarkan situasi saat ini sebagai fase baru yang ia sebut “Hizbullah 2.0”. Istilah tersebut merujuk pada perubahan taktik militer kelompok itu yang kini lebih terkoordinasi dengan Iran.
Dalam serangan terbaru, lebih dari 100 rudal diluncurkan hampir bersamaan dari berbagai lokasi. Hal ini menunjukkan adanya persediaan senjata yang besar sekaligus sistem komando yang terorganisasi dengan baik.
Hanna juga menilai serangan simultan tersebut menunjukkan adanya celah dalam sistem intelijen Israel, karena peluncuran rudal dari banyak titik dapat terjadi meski Israel memiliki dominasi udara.
Israel Hadapi Tekanan Militer dan Ekonomi
Analis politik Muhannad Mustafa menilai serangan terbaru memberi kejutan bagi Israel. Sebelumnya Israel meyakini telah melemahkan kemampuan militer Hizbullah, namun gelombang serangan terbaru menunjukkan kemampuan tersebut masih kuat.
Rudal yang diluncurkan dalam jumlah besar menambah tekanan pada sistem pertahanan Israel serta meningkatkan biaya perang yang harus ditanggung negara tersebut.
Serangan simultan dari Iran dan Hizbullah juga menandai fase baru dalam konflik kawasan. Para pengamat menilai situasi ini dapat memperluas ketegangan di Timur Tengah jika tidak segera mereda.
Dalam kondisi tersebut, Israel kini menghadapi tantangan besar untuk melindungi wilayahnya sekaligus menjaga stabilitas keamanan di tengah meningkatnya konflik regional.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















