Eks Pejabat Militer AS Peringatkan Netanyahu Bisa Gunakan Senjata Nuklir Jika Perang Iran–Israel Memanas

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu siap gunakan nuklir. (Foto: Anadolu)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Seorang mantan pejabat tinggi militer Amerika Serikat memperingatkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir oleh Israel jika konflik dengan Iran terus meningkat. Peringatan tersebut disampaikan oleh Lawrence Wilkerson, mantan Kepala Staf di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, saat membahas perkembangan perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Menurut Wilkerson, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dinilai telah memberikan sinyal kuat kepada kelompok internalnya mengenai kesiapan menggunakan kekuatan militer yang belum pernah digunakan sebelumnya jika situasi konflik semakin tidak terkendali.
Dalam wawancara yang dikutip oleh Democracy Now! pada Rabu (11/3/2026), Wilkerson mengatakan bahwa kemungkinan penggunaan senjata nuklir tidak bisa diabaikan jika Iran mulai mengerahkan kemampuan militernya yang lebih canggih.
Kritik terhadap Kebijakan Perang Pemerintahan Trump
Selain menyoroti potensi eskalasi militer, Lawrence Wilkerson juga melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Ia menilai operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dalam konflik tersebut telah melanggar hukum internasional dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang. Wilkerson menyebut sejumlah serangan dilaporkan mengenai wilayah sipil seperti permukiman, sekolah, hingga rumah sakit.
Selain itu, serangan terhadap fasilitas minyak Iran juga disebut menimbulkan polusi udara besar yang berdampak pada jutaan penduduk di negara tersebut.
Wilkerson menilai perang tersebut sebagai konflik yang dipilih secara sepihak dan tidak melalui pertimbangan matang terhadap kedaulatan Iran.
Kerusakan Infrastruktur Militer AS di Timur Tengah
Berbeda dengan klaim pemerintah AS yang menyebut operasi militer hampir berakhir, Wilkerson mengungkapkan bahwa sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah justru mengalami kerusakan signifikan.
Beberapa infrastruktur radar bernilai miliaran dolar di kawasan Teluk dilaporkan telah dilumpuhkan. Fasilitas pemuatan rudal di Bahrain juga disebut mengalami kerusakan serius sehingga memaksa kapal perang AS menempuh jarak jauh menuju pangkalan militer di Diego Garcia untuk mengisi ulang persenjataan.
Selain itu, pangkalan militer Al Udeid Air Base di Qatar serta fasilitas militer di Kuwait dilaporkan berada dalam ancaman yang semakin meningkat.
Invasi Darat ke Iran Dinilai Berisiko Besar
Wilkerson juga memperingatkan bahwa rencana invasi darat ke Iran akan menjadi langkah yang sangat berisiko bagi Amerika Serikat. Dengan populasi sekitar 93 juta jiwa serta kondisi geografis yang kompleks, operasi militer besar di Iran dinilai dapat menimbulkan kerugian besar bagi AS.
Ia bahkan menyebut konflik ini sebagai awal dari berkurangnya pengaruh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Ancaman Gangguan Perdagangan Global
Selain konflik militer langsung, Wilkerson juga menyoroti potensi dampak ekonomi global. Ia memperingatkan kemungkinan kelompok Houthi movement di Yaman menutup jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandeb.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan paling penting di dunia karena sebagian besar perdagangan internasional melewati wilayah Laut Merah. Jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya terasa pada sektor energi tetapi juga perdagangan pangan dan komoditas global.
Wilkerson juga menyinggung adanya pembatasan informasi di Israel yang menurutnya menghambat laporan media mengenai tingkat kerusakan di kota-kota besar seperti Tel Aviv dan Haifa.
Menurutnya, pembatasan tersebut membuat publik internasional tidak sepenuhnya mengetahui situasi sebenarnya di lapangan serta potensi risiko yang lebih besar dari konflik yang sedang berlangsung.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















