Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

New START Berakhir: Dunia Tanpa Batas Nuklir AS–Rusia dan Risiko Perlombaan Senjata

Mistar.idKamis, 5 Februari 2026 pukul 14.40 WIB
new_start_berakhir_dunia_tanpa_batas_nuklir_asrusia_dan_risiko_perlombaan_senjata

Presiden AS Donald Trump menyapa Presiden Rusia Vladimir Putin, 15 Agustus 2025, di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, Alaska. (foto: AP/Julia Demaree Nikhinson, Arsip/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Perjanjian New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), pilar utama kontrol senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, resmi berakhir pada 5 Februari 2026 setelah tidak diperpanjang lagi oleh kedua pihak. Momen ini menandai akhir lebih dari 50 tahun batasan nuklir bilateral dan membuka fase baru penuh ketidakpastian dalam keamanan global.

New START, yang mulai berlaku pada 2011, adalah satu-satunya perjanjian yang secara hukum membatasi jumlah hulu ledak strategis dan sistem peluncur militer kedua negara. Selama masa berlakunya, perjanjian ini menyediakan mekanisme verifikasi, pertukaran data, dan inspeksi langsung yang menjadi landasan transparansi antar dua kekuatan nuklir terbesar dunia.

Apa Artinya Bagi Keamanan Global?

1. Tidak Ada Batas Legal untuk Persenjataan Nuklir

Dengan berakhirnya New START:

- Batas legal terhadap jumlah hulu ledak strategis (1.550) dan sistem peluncur (700) yang sebelumnya disepakati kini tidak lagi berlaku.

- AS dan Rusia secara hukum bebas menambah atau memodernisasi arsenal nuklir mereka tanpa batasan yang sama seperti sebelumya.

Hal ini menjadi faktor penting yang memicu kekhawatiran bahwa dunia bisa memasuki era tanpa kontrol formal atas senjata nuklir strategis pertama kali sejak dekade 1970-an.

2. Transparansi dan Kepercayaan Memudar

Salah satu kontribusi terbesar New START adalah mekanisme verifikasi yang kuat, termasuk:

- pertukaran data tentang jumlah dan status senjata,

- inspeksi langsung di fasilitas militer,

- notifikasi tentang aktivitas sistem strategis yang sedang diuji atau dikerahkan.

Tanpa struktur ini, penilaian ancaman antar negara kini lebih bergantung pada intelijen nasional, bukan kerja sama bilateral, yang berpotensi memperbesar risiko mispersepsi dan kesalahan perhitungan.

Reaksi Dunia dan Risiko yang Meningkat

Peringatan dari PBB : Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menyebut berakhirnya perjanjian ini sebagai “momen berat” yang berpotensi mengancam perdamaian dan stabilitas global, serta menyerukan dialog segera untuk kerangka baru yang dapat mengurangi risiko nuklir.

Potensi Perlombaan Senjata Baru

Para analis dan kelompok advokasi keamanan khawatir bahwa tanpa batasan formal:

- kedua negara bisa meningkatkan jumlah senjata mereka kembali,

- dan bahkan melibatkan negara lain seperti China, yang tengah memperluas arsenal nuklirnya.

Seorang pakar mengatakan bahwa tanpa batasan, dunia bisa menyaksikan “era dengan lebih banyak risiko nuklir” — tepatnya saat persaingan strategis semakin sengit di tengah dinamika geopolitik yang berubah.

Tawaran Perpanjangan yang Gagal

Sebelum berakhirnya perjanjian, Rusia sempat menawarkan perpanjangan sukarela satu tahun atas batasan yang ada jika AS bersedia setuju. Namun, tanpa respons formal dari Washington, inisiatif itu tidak berjalan.

Bagaimana Masa Depan Kontrol Senjata Nuklir?

Para ahli menyebut berakhirnya New START sebagai perubahan dramatis dalam arsitektur keamanan global. Tanpa perjanjian pengganti, dunia menghadapi:

- potensi peningkatan produksi dan deployment hulu ledak strategis,

- pengurangan transparansi antar kekuatan besar,

- serta tantangan besar untuk menyusun kerangka kontrol senjata nuklir yang baru dan inklusif, terutama melibatkan kekuatan lain seperti China.

Namun, beberapa analis juga melihat situasi ini sebagai peluang untuk merumuskan kembali aturan main kontrol senjata yang lebih modern, mampu mencerminkan realitas geopolitik saat ini.

Kesimpulan: Berakhirnya Perjanjian New START pada 5 Februari 2026 bukan sekadar momen berakhirnya sebuah perjanjian — itu adalah tanda bahwa kontrol senjata nuklir internasional memasuki fase paling kritis sejak Perang Dingin.

Dunia kini harus menghadapi realitas di mana dua negara dengan arsenal terbesar tidak lagi terikat pada batasan resmi, menuntut diplomasi baru, kesepakatan global, dan kesadaran kolektif untuk mencegah perlombaan senjata yang bisa mengguncang stabilitas global.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN