Monday, July 20, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Kemarahan Protes Iran Meledak: Masjid Dibakar, Internet Putus, dan Tuntutan Rezim Digulingkan

Mistar.idMinggu, 11 Januari 2026 pukul 15.07 WIB
kemarahan_protes_iran_meledak_masjid_dibakar_internet_putus_dan_tuntutan_rezim_digulingkan

Api terlihat di Masjid Al-Rasool di Teheran, Iran setelah massa melakukan pembakaran pada Jumat. (Foto: via Iran International)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Kemarahan publik di Iran terus meningkat, memicu gelombang protes besar yang kini telah berlanjut hampir dua minggu dan berubah menjadi tantangan terbesar terhadap rezim teokratis sejak 1979. Aksi unjuk rasa yang awalnya dipicu krisis ekonomi kini merembet menjadi tuntutan perubahan politik dan penolakan terhadap pemerintah yang berkuasa.

Demonstrasi semakin memuncak ketika kerusuhan menyebar ke berbagai kota besar, termasuk Teheran, Isfahan, dan Shiraz. Rekaman video yang beredar meski ada pemadaman internet nasional total menunjukkan masjid-masjid, termasuk Masjid Al-Rasool di Saadat Abad, Teheran, dibakar oleh massa sebagai simbol penolakan terhadap otoritas pemerintah. Para demonstran bahkan meneriakkan slogan anti-pemerintah di tengah kobaran api dan puing-puing di jalanan ibu kota, Jumat (9/1/2026).

Pemerintah Iran berusaha menutup akses komunikasi dengan memutus layanan internet dan telepon untuk menghambat koordinasi demonstran dan peliputan kejadian di lapangan. Pemutusan layanan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk meredam gelombang protes yang kini telah menyebar ke semua 31 provinsi di negara itu.

Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengecam dukungan eksternal terhadap demonstran, terutama dari Amerika Serikat, dan menyatakan protes sebagai upaya yang dipengaruhi pihak luar. Pemerintah juga memperingatkan tindakan keras terhadap peserta unjuk rasa yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional.

Seruan untuk perlawanan besar makin menggema setelah Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang diasingkan, menyerukan demonstran untuk “merebut pusat kota” dan terus menekan rezim melalui protes dan pemogokan. Dorongan dari tokoh oposisi ini memperluas tuntutan demonstran dari sekadar perbaikan ekonomi menjadi perubahan politik yang lebih luas.

Di tengah eskalasi, kelompok hak asasi internasional melaporkan ratusan orang tewas dan ribuan ditangkap akibat bentrokan di berbagai wilayah, sementara pemadaman komunikasi mempersulit peninjauan independen tentang skala sesungguhnya dari kekerasan dan kerusakan yang terjadi.

Krisis politik dan sosial di Iran sekarang memiliki dampak domestik yang besar dan memicu reaksi internasional. Negara-negara di luar Iran terus memantau perkembangan, sementara demonstran tetap bersikeras mempertahankan momentum perlawanan di tengah tekanan yang meningkat dari rezim berkuasa.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN