Iran dan AS Bahas Pencabutan Sanksi Minyak dalam Perundingan di Swiss

Menlu Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf pimpin delegasi negosiasi dengan AS di Swiss. (Foto: AFP/Urs Flueeler)
Burgenstock, MISTAR.ID
Iran dan Amerika Serikat (AS) memulai perundingan putaran pertama di Burgenstock, Swiss, dengan fokus pada pembahasan aset Iran yang dibekukan serta proposal pencabutan sanksi terhadap sektor energi.
Pembicaraan tingkat teknis yang berlangsung pada Minggu (21/6/2026) itu turut dimediasi oleh Qatar dan Pakistan. Anggota tim negosiasi Iran, Hussein Gurbanzadeh, mengatakan salah satu agenda utama perundingan adalah pembebasan aset Iran yang selama ini dibekukan.
“Dalam negosiasi hari ini, kami membahas masalah aset kami yang dibekukan dan pengaturan untuk pembebasannya,” ujar Gurbanzadeh kepada televisi pemerintah Iran.
Ia menambahkan, kedua pihak juga membahas kemungkinan pengecualian sementara dari sanksi yang diberlakukan terhadap ekspor minyak Iran beserta produk turunannya.
“Di Swiss, kami membahas pengecualian sementara dari sanksi terhadap minyak dan turunannya, dan draf akhir proposal mengenai masalah ini telah selesai,” katanya.
Dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung bersamaan, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, menyambut baik nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani awal pekan ini dan menyebutnya sebagai langkah penting menuju stabilitas kawasan.
Menurutnya, kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian akibat meningkatnya ketegangan dan konflik.
“Periode terakhir merupakan salah satu periode tersulit yang pernah disaksikan kawasan kita, dengan rakyatnya menanggung beban berat akibat ketidakpastian dan eskalasi,” ujarnya.
Sheikh Mohammed berharap kesepakatan yang dicapai dapat membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas dan mendorong pembangunan di kawasan.
“Kami berharap bahwa perjanjian yang kita saksikan hari ini akan membantu menciptakan lingkungan yang memungkinkan negara-negara untuk mengarahkan energi mereka menuju pembangunan, kerja sama, dan memberikan peluang bagi rakyat mereka,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tahap pembicaraan teknis selanjutnya akan menjadi kunci dalam mengimplementasikan komitmen yang telah disepakati menjadi hasil nyata.
“Pekerjaan tidak berakhir dengan penandatanganan MoU,” ujarnya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Serangan Rusia dan Ukraina Tewaskan Tujuh Orang



















