Thursday, October 8, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Cerita Duka Warga Gaza: Enam Kursi yang Membawa Ahmad 'Pulang' ke Rumah

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB
cerita_duka_warga_gaza_enam_kursi_yang_membawa_ahmad_pulang_ke_rumah

Ahmad Ishtaiwi (43), warga Beit Lahiya, Gaza utara, kini tinggal di sebuah tenda dekat Deir al-Balah, Gaza selatan. (foto: Amjed Tantesh/The Guardian)

news_banner

Gaza, MISTAR.ID - Bagi Ahmad Ishtaiwi, enam kursi plastik yang murah, usang dan penuh bekas pemakaian merupakan salah satu harta paling berharga yang masih dimilikinya.

Pria 43 tahun yang bekerja sebagai sopir dan mekanik itu kini tinggal di sebuah tenda dekat Deir al-Balah, Gaza tengah, bersama dua putrinya. Rumah mereka berada jauh di utara, di Beit Lahiya, kota yang kini hancur, tidak layak dihuni dan sulit didatangi.

“Ketika saya duduk di kursi-kursi itu, saya teringat saat duduk di taman rumah, sarapan dan minum teh. Kursi-kursi itu mengingatkan saya pada kehidupan saya di sana,” kata Ahmad pekan lalu.

Kisah Ahmad merupakan bagian dari laporan Seham Tantesh di Gaza dan Jason Burke untuk The Guardian, yang menggambarkan bagaimana benda-benda sederhana dari kehidupan sebelum perang kini menjadi pengingat masa lalu bagi warga Palestina di Gaza.

Rabu menandai peringatan serangan 7 Oktober 2023 oleh militan Hamas ke wilayah Israel selatan yang menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil. Serangan tersebut memicu operasi militer Israel di Gaza yang, menurut angka dalam laporan tersebut, telah menewaskan sekitar 73.000 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, serta melukai jauh lebih banyak orang.

Sebagian besar wilayah Gaza juga berubah menjadi reruntuhan.

Bagi Layan al-Jbour, 15 tahun, kenangan tentang kehidupan sebelum perang muncul melalui pekerjaan sederhana sehari-hari.

Layan berasal dari Khan Younis, Gaza selatan. Kini ia tinggal bersama orang tua dan saudara-saudaranya di tempat penampungan sementara yang padat di al-Mawasi, kawasan pesisir di bagian selatan Gaza.

Layan al-Jbour (15), warga Khan Younis, memegang laporan pemeriksaan jantung dari rumah sakit. Satu-satunya barang yang dibawanya saat meninggalkan rumah adalah tas sekolahnya. (foto: Amjed Tantesh/The Guardian)

“Ketika saya merapikan tenda, saya teringat rumah kami dan bagaimana dulu saya merapikannya. Saya teringat kamar saya dan bagaimana dulu saya merapikan tempat tidur,” katanya.

“Ketika saya memasang kain penutup di atas meja dan menata tempat tidur, tempat ini terlihat seperti rumah kami dulu.”

Keluarganya hampir tidak membawa apa pun ketika meninggalkan rumah.

“Kami meninggalkan semuanya, dan satu-satunya barang yang saya bawa adalah tas sekolah saya. Sekarang, itu adalah benda paling berharga yang saya miliki. Tas itu sangat mengingatkan saya pada masa-masa sekolah. Saya suka pergi ke sekolah dan bertemu teman-teman saya di sana,” ujarnya.

Di berbagai wilayah Gaza, warga Palestina kini menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari sebelum perang. Kekurangan air dan makanan bergizi, terbatasnya layanan kesehatan, penyakit, pengangguran, kehancuran ekonomi serta ancaman kematian dan cedera menjadi bagian dari keseharian.

Meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama setahun, serangan udara Israel masih terjadi. Warga Palestina yang mendekati apa yang disebut “garis kuning”, yang membagi wilayah Gaza menjadi zona yang dikuasai militer Israel dan Hamas, dilaporkan telah ditembak hingga tewas.

Dalam setahun terakhir, jumlah korban tewas dilaporkan bertambah sekitar 1.400 orang.

Dalam beberapa hari terakhir, serangan Israel kembali meningkat. Sedikitnya dua warga Palestina tewas di Gaza pada Selasa, menurut pejabat kesehatan. Militer Israel mengatakan serangan tersebut menargetkan militan.

Pada Rabu, tenaga medis di Gaza mengatakan sedikitnya dua warga Palestina tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan udara di Beit Lahiya dan Khan Younis.

“Inilah yang kami khawatirkan … gencatan senjata yang sebenarnya bukanlah gencatan senjata,” kata seorang pekerja bantuan internasional yang kini berbasis di Amman, Yordania. Ia sebelumnya bekerja di Gaza selama sebagian besar konflik.

“Kehidupan sehari-hari sangat buruk. Orang-orang memang tidak lagi kelaparan, tetapi mereka masih kekurangan gizi. Staf lokal kami mengatakan bahwa ini hanyalah tahap berikutnya dari konflik,” katanya.

Ramiz Alakbarov, koordinator kemanusiaan PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bulan lalu bahwa meskipun pasokan yang masuk ke Gaza meningkat, kondisi kesehatan tetap kritis.

Penyakit menular masih meluas di lokasi pengungsian yang padat, sementara kondisi air, sanitasi dan kebersihan belum memadai.

Alakbarov mengatakan pendanaan yang tidak mencukupi untuk operasi bantuan memperburuk kekurangan pasokan medis dan bahan bakar serta menghambat respons kemanusiaan secara keseluruhan.

Ia juga mengatakan pembatasan masuknya barang-barang kemanusiaan penting yang diberlakukan Israel memperlambat persiapan menghadapi cuaca dingin.

Otoritas Israel membantah adanya kekurangan pasokan dan mengatakan kebutuhan yang memadai telah masuk ke Gaza. Menurut mereka, lebih dari 600 truk memasuki wilayah tersebut setiap hari.

Bagi Saleh Kilani, 70 tahun, kehilangan akibat perang juga berarti hilangnya sumber kehidupan.

Kilani berasal dari Beit Lahiya dan dahulu memiliki lahan pertanian serta pohon-pohon zaitun.

“Sekitar waktu seperti sekarang, saya biasanya memeras sekitar 60 wadah berisi minyak zaitun. Tetapi semua itu juga hilang,” katanya.

“Jika saya pergi ke rumah, saya bisa mati, dan jika saya pergi ke kebun, saya juga bisa mati. Ini bukan kehidupan. Kami kelelahan dan telah kehilangan harapan.”

Kilani mengatakan kehidupan sebelum konflik kini terasa sangat jauh.

“Kami dulu tidak pernah berpikir dua kali ketika melihat pohon jeruk dan persik, ladang hijau, anggur dan buah ara. Semua itu hanyalah bagian dari kehidupan kami. Sekarang ketika melihatnya, kami terkejut,” ujarnya.

Hamas, yang kembali menegakkan kekuasaannya atas sekitar 2,3 juta warga Palestina yang tinggal di bagian Gaza yang tidak berada di bawah kendali militer Israel, telah membangun kembali pemerintahan sederhana.

Pemerintahan tersebut menyediakan pendidikan secara terbatas, sejumlah layanan kesehatan dan kepolisian terbatas yang mengandalkan efek jera melalui hukuman yang dalam sejumlah kasus dilakukan secara sewenang-wenang.

Sementara itu, rencana Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza secara definitif masih mengalami kebuntuan. Belum banyak kemajuan dalam upaya melucuti Hamas, memastikan penarikan pasukan Israel dan memulai pekerjaan rekonstruksi besar-besaran.

“Ketakutan terbesar saya adalah situasi ini akan terus berlanjut. Kami hidup dalam suatu masa yang bisa digambarkan sebagai bukan perang, tetapi juga bukan perdamaian,” kata Kilani.

Bagi Israa Abu Taiba, salah satu cara untuk mengingat kehidupan sebelum perang adalah dengan kembali menjalankan profesinya sebagai penata kecantikan.

Perempuan 26 tahun itu sebelumnya tinggal di Bani Suheila, kota di sebelah timur Khan Younis yang kini berada di bawah kendali Israel.

Dari lima saudara laki-lakinya, dua tewas dalam konflik, dua lainnya terluka, sementara satu orang termasuk di antara lebih dari 1.500 warga Palestina dari Gaza yang ditahan di Israel.

Israa Abu Taiba (26), warga Bani Suheila, sebelah timur Khan Younis, dahulu bekerja sebagai penata kecantikan. (foto: Amjed Tantesh/The Guardian)

“Sebelum perang, hidup saya tenang dan baik. Saya bisa pergi ke mana pun tanpa rasa takut atau pembatasan. Kami tinggal di rumah kami sendiri. Kami memiliki mesin cuci, keran air dan taman. Rumah itu milik kami dan kami hidup dengan nyaman,” katanya.

“Sekarang kami tinggal di tenda. Kehidupan kami bergantung pada mengambil air dan mendapatkan makanan dari dapur umum.”

Sebuah truk air datang ke ujung jalan tempat keluarganya tinggal. Israa harus mengambilnya sendiri karena ibunya tidak mampu mengangkat air.

Seperti banyak keluarga lain di Gaza, mereka telah beberapa kali mengungsi selama konflik dan kehilangan hampir seluruh barang dari rumah sebelumnya.

Satu-satunya benda yang masih disimpan ibunya adalah kunci rumah.

Di tengah kehidupan yang serba terbatas, Israa masih sesekali menjalankan pekerjaan lamanya.

“Satu-satunya hal yang masih saya lakukan dari kehidupan lama saya adalah pekerjaan kecantikan. Saya memotong rambut anak-anak perempuan di tenda-tenda sekitar kami dan merias wajah mereka untuk pernikahan,” katanya.

Pekerjaan itu memberinya kesempatan untuk kembali sejenak ke masa ketika keluarganya masih dapat menjalani kehidupan normal.

“Hal itu membawa saya kembali ke masa kehidupan kami yang indah dan bahagia, ketika kami biasa merayakan pernikahan dan berbagai acara bahagia lainnya sebelum perang. Hal itu membuat saya sejenak menjauh dari kesengsaraan yang kami alami, meskipun hanya untuk sementara,” kata Israa. (*/The Guardian)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN