Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Alarm Nuklir Dunia Berbunyi: PBB Sebut Berakhirnya New START Ancaman Serius Perdamaian Global

Mistar.idKamis, 5 Februari 2026 pukul 17.35 WIB
alarm_nuklir_dunia_berbunyi_pbb_sebut_berakhirnya_new_start_ancaman_serius_perdamaian_global

Sekjen PBB, António Guterres. (foto:reuters/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres melontarkan peringatan keras kepada dunia internasional menyusul resmi berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia. Ia menyebut momen ini sebagai ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global, sekaligus membuka babak baru yang penuh ketidakpastian.

Berakhirnya New START pada 5 Februari 2026 menandai hilangnya satu-satunya perjanjian yang secara hukum mengikat kedua negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia. Selama lebih dari satu dekade, perjanjian ini menjadi pilar utama stabilitas strategis global pasca-Perang Dingin.

“Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, dunia berada tanpa batasan yang mengikat terhadap arsenal nuklir strategis,” ujar Guterres dalam pernyataannya.

Benteng Terakhir Kontrol Nuklir Runtuh

New START—yang mulai berlaku pada 2011 dan sempat diperpanjang pada 2021—membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan masing-masing negara serta menyediakan mekanisme verifikasi dan inspeksi langsung. Skema ini bukan sekadar angka, melainkan alat kepercayaan untuk mencegah kesalahpahaman militer yang bisa berujung fatal.

Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, tidak ada lagi pembatasan resmi atas jumlah hulu ledak, sistem peluncur, maupun transparansi persenjataan nuklir AS dan Rusia. Kondisi ini memicu kekhawatiran global akan perlombaan senjata nuklir generasi baru.

Peringatan akan Eskalasi dan Salah Perhitungan

Guterres menegaskan, ketiadaan kerangka kontrol senjata meningkatkan risiko salah tafsir, eskalasi tak disengaja, hingga konflik berskala besar—terutama di tengah tensi geopolitik yang kian panas.

“Ketika transparansi menghilang, ketakutan dan spekulasi tumbuh. Ini adalah kombinasi berbahaya bagi stabilitas dunia,” ucapnya.

Menurut PBB, dampak berakhirnya New START tidak hanya dirasakan oleh Washington dan Moskow, tetapi juga menyentuh seluruh sistem keamanan internasional, termasuk negara-negara non-nuklir yang berpotensi menjadi korban tidak langsung dari eskalasi global.

Seruan Kembali ke Meja Diplomasi

Di tengah situasi genting ini, Guterres mendesak Amerika Serikat dan Rusia untuk segera kembali ke meja perundingan. Ia mendorong lahirnya kerangka perjanjian baru yang lebih relevan, tidak hanya mempertahankan batasan kuantitatif, tetapi juga memperkuat kepercayaan dan transparansi.

Lebih jauh, Sekjen PBB menilai upaya pengendalian senjata nuklir ke depan tidak bisa lagi bersifat eksklusif dua negara. Keterlibatan kekuatan nuklir lain, termasuk China, disebut sebagai kunci menciptakan arsitektur keamanan global yang berkelanjutan.

Dunia di Persimpangan Berbahaya

Sejumlah pengamat menilai, berakhirnya New START menempatkan dunia pada persimpangan berbahaya: antara memperbarui diplomasi kontrol senjata atau membiarkan logika perlombaan senjata kembali mendominasi hubungan internasional.

Bagi PBB, pesan Guterres jelas—ini bukan sekadar soal perjanjian yang berakhir, melainkan ujian nyata komitmen global terhadap perdamaian dan kelangsungan hidup umat manusia.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN