Friday, June 26, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Sengketa Lahan PT Bridgestone di Sipispis Sergai Sudah Berlangsung Sejak 1998

Mistar.idJumat, 26 Juni 2026 pukul 11.16 WIB
sengketa_lahan_pt_bridgestone_di_sipispis_sergai_sudah_berlangsung_sejak_1998

Puluhan kendaraan terbakar yang diamankan di Polsek Sipispis. (Foto: Damanik/Mistar)

news_banner

Sergai, MISTAR.ID - Kepala Desa Tinokkah, Rio Damanik, menyebut konflik sengketa lahan yang berujung bentrokan antara warga yang mengatasnamakan Kerajaan Nagur Bolak dengan pihak PT Bridgestone di Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), telah berlangsung selama puluhan tahun.

"Kejadian ini bukan konflik yang baru. Sengketa lahannya sudah cukup lama berlangsung dan puncaknya kemarin berujung bentrok serta aksi anarkis," kata Rio Damanik kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).

Menurut Rio, konflik tersebut bermula sejak 1998 ketika lahan masih berstatus Hak Guna Usaha (HGU) PT Goodyear. Setelah perusahaan beralih menjadi PT Bridgestone, HGU lahan tersebut, sepengetahuannya, telah berakhir pada 2022 atau 2023.

Ia menjelaskan, setelah itu muncul aksi penggarapan lahan oleh kelompok Sorbajahe Nagatongah Sihora Hora (SNS) seluas sekitar 400 hektare. Hingga kini, kata Rio, persoalan tersebut belum memiliki penyelesaian, sementara di lokasi sudah terdapat tanaman dan rumah permanen.

Selanjutnya, muncul kelompok lain yang mengatasnamakan tanah ulayat dan mengklaim lahan seluas sekitar 200 hektare. Lahan tersebut juga masih dimanfaatkan untuk aktivitas perladangan.

"Terakhir, Kerajaan Nagur Bolak mengklaim kawasan seluas 7.000 hektare. Aksi itulah yang kemudian berujung ricuh hingga terjadi pembakaran kendaraan," ujarnya.

Rio mengatakan bentrokan yang terjadi pada Kamis (25/6/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menyebabkan 27 unit sepeda motor yang diduga milik karyawan PT Bridgestone dan satu unit truk Fuso terbakar. Selain itu, beberapa warga dilaporkan mengalami luka-luka dan dirawat di Rumah Sakit Vita Insani, Pematangsiantar.

Ia menambahkan, peserta aksi yang mengatasnamakan Kerajaan Nagur Bolak tidak seluruhnya merupakan warga Desa Tinokkah.

"Raja Nagur Bolak memang berada di Desa Tinokkah, tetapi sebagian besar massa yang ikut aksi berasal dari luar desa. Begitu juga lahan yang diklaim berada di Desa Nagur Pane dan Parlambean," katanya.

Rio juga menyebut aksi warga mendapat pengawalan dari personel Polres Tebing Tinggi. Hingga kini, kepolisian masih melakukan penanganan terkait peristiwa tersebut dan belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab maupun jumlah kerugian akibat bentrokan.

Terpisah, Kasi Humas Polres Tebing Tinggi AKP Mulyono, mengatakan hingga saat ini personel kepolisian masih terus melakukan monitoring dan upaya konsolidasi guna menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN