Kisah Aurelie Moeremans yang Ditulis dalam Buku Broken Strings Dilirik Banyak Rumah Produksi

Buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans dilirik banyak rumah produksi. (foto: Instagram.com@aurelie/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans mendadak viral karena keberaniannya membongkar rahasia masa lalu. Dalam bukunya, ia menceritakan secara mendalam pengalaman pahit sebagai korban child grooming di usia remaja, sebuah sisi kehidupan pribadi yang sebelumnya tidak pernah terendus oleh masyarakat luas.
Buku ini banyak diperbincangkan oleh warganet. Bahkan, buku ini sudah mencapai jutaan pembaca. Para pembaca ramai-ramai memberikan semangat karena mereka merasa terenyuh melihat betapa beratnya perjalanan hidup yang sudah dilalui Aurelie Moeremans.
Menariknya, Broken Strings bukan hanya dilirik oleh warganet saja, melainkan juga rumah produksi. Lewat karyanya itu, banyak rumah produksi yang ingin mengangkatnya ke layar lebar, seperti yang diungkapkan Aurelie dalam Instagram pribadinya.
Bagaimana tanggapan Aurelie, ya?
Aurelie berharap bukunya bisa diadaptasi menjadi film atau serial. Dalam channel yang dibuat Aurelie Moeremans di Instagram pribadinya dengan nama “Broken Strings Circle” itu, ia membagikan sebuah respons dari salah satu followers-nya yang meminta supaya buku karyanya itu bisa dijadikan film.
Aurelie pun ikut memberikan tanggapan dari followers-nya itu, di mana dirinya pun berharap bukunya bisa diadaptasikan menjadi sebuah film atau serial.
Dengan begitu, isi pesan dalam karyanya pun bisa memberikan dampak luas kepada masyarakat. Bahkan, Aurelie sampai memberikan kode eksistensi buku ini kepada seluruh sutradara atau produser.
"Aku sih senang banget kalau suatu hari Broken Strings bisa diadaptasi jadi film atau limited series, biar impact-nya bisa lebih luas. Kira-kira siapa ya, sutradara atau producer yang paling pas? Tolong bantu bikin mereka aware kalau buku ini ada ya!” tulis Aurelie dalam channel Instagram pribadinya. Mulai dilirik banyak rumah produksi
Usai Aurelie Moeremans menginginkan karyanya itu kalau bisa diadaptasi menjadi sebuah film atau limited series, ia langsung mengumumkan bahwa Broken Strings dilirik oleh beragam rumah produksi.Bahkan, Aurelie sampai terkejut kalau salah satu dari beberapa rumah produksi itu ada yang tidak disangka-sangka oleh dirinya sendiri. Ia mengakui kalau dirinya betul-betul antusias ketika mendapatkan kabar gembira tersebut.
“Ada beberapa PH yang tertarik. Ada satu yang aku nggak sangka-sangka! Can’t spill yet. Takut jinx it. Tapi aku excited banget, doain lancar!” kata Aurelie dikutip Kamis (15/1/2026).
Pertama kalinya diincar oleh banyak rumah produksi karena karyanya. Ketika buku Broken Strings viral dan sampai menjadi incaran banyak rumah produksi, Aurelie Moeremans sampai mempertanyakan apakah dirinya harus cemburu dengan karyanya sendiri.
Sebab, ini pertama kalinya bagi Aurelie mendapatkan tawaran dari banyaknya rumah produksi agar karyanya itu bisa diadaptasi ke layar kaca Indonesia.
“Apa aku harus cemburu sama buku aku ya? First time in my life sebanyak ini production houses ngejari di waktu yang sama. And it’s not even for me, it’s for Broken Strings,” ujarnya.
Melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans berbagi kisah hidupnya yang emosional dan penuh trauma, mulai dari perundungan yang ia alami di Belgia hingga jeratan manipulasi dalam hubungan saat dirinya sudah di Indonesia.
Ia menegaskan buku ini disusun dari perspektif korban, dengan komitmen penuh untuk tidak memperindah atau meromantisasi segala bentuk kekerasan yang terjadi.
“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri. Ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban,” tulis Aurelie di reels Instagram pribadinya.
Dalam buku Broken Strings, Aurelie mengakui dirinya menjadi korban child grooming. Ia mengungkapkan bahwa saat baru memulai karier sebagai artis di usia 15 tahun, seorang laki-laki dewasa berusia 29 tahun bernama Bobby (nama samaran) mendekatinya hingga akhirnya resmi berpacaran.
Awal pertemuannya dengan Bobby dikenang dengan begitu indah. Sosok Bobby yang ia temui di lokasi syuting dipandang sebagai laki-laki menawan, humoris, dan memiliki daya pikat luar biasa yang mampu menarik perhatian banyak orang di sekitarnya.
Ketika hendak mendekati Aurelie, Bobby sangat memanjakannya dengan perhatian tanpa henti, seperti setia menunggu di lokasi syuting dan mengantar jemput keluarganya.
Sayangnya, sikap manis itu berubah drastis menjadi perilaku posesif dan mengekang begitu mereka resmi berpacaran.Selama bertahun-tahun, Aurelie terjebak dalam hubungan yang penuh manipulasi, kontrol ketat, serta kekerasan fisik dan seksual yang meninggalkan trauma mendalam.



















