Alasan Aurelie Moeremans Terbitkan Broken Strings

Aurelie Moeremans. (Foto: YouTube Mrs Aurelie)
Jakarta, MISTAR.ID
Broken Strings mengangkat kisah kelam masa lalu Aurelie Moeremans yang pernah mengalami child grooming. Buku yang sedang popular tersebut membuat banyak masyarakat bertanya-tanya mengapa Aureline mengungkapkan masa lalunya ke publik di saat dia telah bahagia bersama suaminya dan sedang mengandung?
Menjawab pertanyaan ini, Aurelie mengatakan jika ia telah menemui seorang hipnoterapis dan menceritakan seluruh kejadian tersebut. Aurelie ternyata mengalami trauma akibat child grooming yang diperolehnya sejak umur 15 tahun.
“Kenapa aku nulis buku ini? Awalnya aku ke hipnoterapis dan aku cerita sama dia. Kejadian ini sudah 16 tahun yang lalu, hanya saja aku masih tetap mengalami trauma,” ujar Aurelie di kanal YouTube miliknya, Mrs Aurelie, dilihat pada Kamis (15/1/2026).
Bahayanya, trauma yang dialami Aurelie muncul dalam bentuk perilaku menyakiti diri sendiri. Aurelie akan memukul dirinya sendiri saat perasaan sedih datang.
“Kalau aku sedang sedih, kadang-kadang aku suka mukulin diri sendiri. Aku merasa aku layak mendapatkan pukulan itu,” tuturnya.
Lama kelamaan, Aurelie menyadari jika tindakan memukul diri sendiri menjadi tanda masih adanya trauma masa lalu.
“Ada sesuatu yang belum selesai di dalam hatiku. Jauh di dalam lubuk hati, aku tahu aku enggak deserve dikasarin. Ada sesuatu yang salah,” tuturnya.
Setelah bertemu terapis, Aurelie disarankan mencurahkan perasaannya melalui bentuk tulisan atau buku.
“Akhirnya terapisku suruh aku nulis diary aja gitu. Dari kecil tuh aku ingin ada di umur 32 seperti sekarang. Kenapa? Karena aku mau tahu kenapa dia (pelaku child grooming) bisa setega dan sekeji itu sama aku,” ucap Aurelie.
Saat ini, Aurelie mengatakan bahwa tidak ada yang harus dimengerti dari perbuatan grooming. Terlebih kepada seorang anak yang masih berumur 15 tahun.
“Dulu aku bener-bener enggak ngerti kenapa ada orang yang begitu . Saat aku di umur 32, aku baru sadar, enggak ada yang harus dimengerti dari perbuatan grooming. Semua itu tidak seharusnya terjadi,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa menulis buku Broken Strings bukanlah hal yang mudah karena harus membuka luka lama yang sudah dikuburnya.
“Terus aku berat sih sebenarnya pas nulis karena kayak membuka luka lama. Tapi akhirnya aku bisa melihat semua yang terjadi dari sudut pandang yang berbeda,” tuturnya.
Selama menulis bukunya tersebut, Aurelie bahkan berpikir kalau dirinya yang dahulu memang sangat bodoh.
“Sebenernya pas aku nulis buku itu, aku merasa ‘kok aku dodol banget ya’ zaman dulu,” katanya.
Namun, ia menyadari bahwa saat itu dirinya masih sangat muda dan tidak memiliki banyak pilihan.
“Tapi memang waktu aku umur 15 tahun tuh ya karena aku masih kecil, enggak ngerasa dodol. Aku bener-bener enggak ngelihat jalan keluar,” ucapnya. (hm20)



















