Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pengamat USI Sebut Harga Barang dan UMKM Terancam Terdampak

Ilustrasi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada di bawah tekanan dan telah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini dikhawatirkan memberikan dampak berantai terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari biaya transportasi, harga barang kebutuhan pokok, hingga aktivitas pelaku usaha di daerah.
Pengamat ekonomi dari Universitas Simalungun (USI), Dr. Darwin Damanik, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya kebutuhan dolar AS, baik di pasar global maupun domestik.
"Ada kebutuhan dolar yang cukup besar untuk impor minyak, pembayaran utang luar negeri, serta obligasi pemerintah yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat," ujarnya kepada Mistar, Jumat (5/6/2026).
Menurut Darwin, faktor eksternal yang turut memberi tekanan terhadap rupiah adalah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Tingkat suku bunga yang tinggi dinilai mendorong investor global mengalihkan dananya ke AS karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.
Selain faktor global, kondisi fiskal dalam negeri juga menjadi perhatian investor. Sejumlah program prioritas pemerintah yang membutuhkan alokasi anggaran besar dinilai turut memengaruhi persepsi pasar terhadap ruang fiskal Indonesia ke depan.
"Kondisi ini dapat memunculkan kehati-hatian dari investor dan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi jangka panjang Indonesia," kata Darwin.
Harga Barang Berpotensi Naik
Darwin menjelaskan, dampak pelemahan rupiah akan terasa hingga ke daerah melalui kenaikan harga barang, terutama yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku atau komponen impor.
Meski Kota Pematangsiantar ditopang sektor perdagangan dan pasokan hasil pertanian dari wilayah sekitar, sejumlah barang konsumsi masih dipengaruhi oleh rantai pasok global. Produk elektronik, suku cadang kendaraan, kedelai untuk industri tahu dan tempe, hingga bahan baku tertentu masih bergantung pada impor.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi dan distribusi cenderung meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga jual barang di pasar tradisional maupun pusat perdagangan lokal.
Pelaku UMKM Hadapi Tekanan
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga dinilai menjadi kelompok yang rentan terdampak. Pelaku usaha yang menggunakan bahan baku dari luar daerah atau luar negeri berisiko menghadapi kenaikan biaya produksi yang dapat menggerus margin keuntungan.
Di sisi lain, pelaku usaha juga dihadapkan pada tantangan menjaga daya beli masyarakat. Kenaikan harga yang terlalu tinggi berpotensi mengurangi minat belanja konsumen.
"Pelaku UMKM berada dalam posisi yang tidak mudah karena harus menyesuaikan biaya produksi tanpa mengurangi daya saing produk mereka di pasar," jelas Darwin.
Masyarakat Diminta Lebih Bijak Mengelola Keuangan
Menghadapi ketidakpastian ekonomi, Darwin mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur keuangan rumah tangga. Menurutnya, pengendalian pengeluaran menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan finansial keluarga.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menunda pembelian yang tidak mendesak, memprioritaskan penggunaan produk lokal, menyediakan dana darurat yang cukup, serta menghindari penambahan utang konsumtif.
"Masyarakat perlu lebih adaptif dan disiplin dalam mengelola keuangan agar mampu menghadapi berbagai dinamika ekonomi yang terjadi," ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan ekonomi keluarga dan dukungan terhadap produk lokal dapat menjadi salah satu cara menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah gejolak global yang masih berlangsung.
BERITA TERPOPULER























