Dolar AS Tembus Rp18.000, Purbaya Serahkan Stabilitas Rupiah ke BI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Antara)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp18.000 mendapat perhatian berbagai kalangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi tersebut masih berada dalam pengawasan dan belum memerlukan langkah luar biasa dari pemerintah.
Berdasarkan data pasar, dolar AS tercatat menguat hingga mencapai Rp18.044 per dolar atau naik sekitar 0,43 persen. Meski demikian, Purbaya menilai pengelolaan stabilitas kurs rupiah tetap menjadi ranah Bank Indonesia (BI) yang hingga saat ini dinilai masih mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
Menurutnya, belum ada alasan mendesak untuk menggelar rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ia menegaskan kondisi pasar keuangan nasional masih dalam kendali otoritas terkait.
“Bank Indonesia masih menjalankan tugasnya dengan baik dan situasi masih terkendali. Untuk urusan stabilitas rupiah, saya serahkan kepada BI,” ujar Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Pelemahan Rupiah Berpotensi Tambah Beban Utang
Purbaya mengakui pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai pembayaran kewajiban luar negeri jika dihitung dalam mata uang domestik. Meskipun kupon atau bunga utang berdenominasi dolar AS tetap, kebutuhan rupiah untuk memenuhi pembayaran tersebut akan bertambah ketika kurs melemah.
Namun demikian, pemerintah telah memperhitungkan berbagai kemungkinan perubahan kondisi ekonomi global dalam penyusunan anggaran negara. Karena itu, dampak pelemahan rupiah saat ini dinilai masih berada dalam batas yang telah disimulasikan sebelumnya.
APBN Diklaim Tetap Aman
Pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar Rp16.500 per dolar AS saat menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain asumsi dasar tersebut, pemerintah juga melakukan berbagai simulasi terhadap potensi risiko ekonomi, termasuk fluktuasi kurs dan perubahan harga energi.
Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih mendukung nilai tukar rupiah yang lebih kuat dibanding posisi saat ini. Oleh sebab itu, kondisi yang terjadi belum dianggap mengancam kesehatan fiskal negara.
“Berbagai skenario sudah dihitung sebelumnya. Fundamental rupiah sebenarnya lebih kuat dibanding level saat ini,” jelasnya.
Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi
Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, pemerintah juga melakukan intervensi di pasar surat utang negara. Langkah tersebut dilakukan guna meredam tekanan dan menjaga kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan domestik.
Purbaya mengungkapkan nilai intervensi yang dilakukan di pasar obligasi telah mencapai lebih dari Rp8 triliun. Hasilnya, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun tetap relatif stabil dan bahkan menunjukkan kecenderungan menurun.
Menurutnya, langkah tersebut memberikan dampak positif terhadap stabilitas pasar surat utang pemerintah di tengah tekanan eksternal yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
Dengan berbagai langkah antisipatif yang telah dilakukan, pemerintah optimistis gejolak nilai tukar saat ini tidak akan mengganggu stabilitas APBN maupun kondisi pasar keuangan nasional secara keseluruhan.
PREVIOUS ARTICLE
Harga Cabai Merah dan Andaliman Kompak Turun di Laguboti
















