Rupiah Kian Terpuruk ke Rp17.900 per Dolar AS dan IHSG Terkoreksi

Monitor pergerakan saham dan kurs mata uang. (Foto: Antara)
Medan, MISTAR.ID
Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih memberikan dampak buruk terhadap rupiah pada perdagangan pagi ini, Rabu (3/6/2026). Begitu pula dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi ke angka 6.127.
Mata uang rupiah terpantau kembali bergerak melemah secara mendalam hingga menyentuh level baru di angka Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) .
Ambruknya kurs garuda ini terjadi seiring dengan kurang meyakinkannya data indikator ekonomi nasional yang dirilis sebelumnya, ditambah kuatnya faktor eksternal.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memaparkan bahwa pemicu utama kepanikan pasar saat ini bersumber dari kekhawatiran rantai pasok energi di Selat Hormuz.
Gunawan menjelaskan, pelaku pasar global saat ini tengah mengawasi dengan ketat dinamika hubungan diplomasi antara Iran dengan Amerika Serikat.
Ketegangan mencuat setelah pihak AS mengeluarkan pernyataan resmi yang menuding Iran telah memasang ranjau laut di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Dampaknya, harga minyak mentah dunia langsung melompat tajam merespons potensi gangguan distribusi logistik energi global tersebut.
Kenaikan harga minyak ini menunjukkan bahwa pasar finansial masih dihantui oleh ketidakpastian yang tinggi, sehingga risiko geopolitik kembali mencuat kuat di pasar komoditas, khususnya minyak bumi.
"Hingga perdagangan pagi ini, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditransaksikan naik ke level 94,58 dolar AS per barel, sedangkan minyak jenis Brent ikut terkerek naik ke kisaran 96,7 dolar AS per barel," kata Gunawan, Rabu (3/6/2026).
Fluktuasi tajam di pasar komoditas energi andalan tersebut serta merosotnya nilai tukar rupiah otomatis memberikan tekanan berat bagi pergerakan bursa saham domestik.
Sedangkan IHSG yang awalnya sempat mengorbit di zona hijau pada sesi pembukaan perdagangan dengan bertengger di level 6.207, tidak lama kemudian langsung berbalik arah (reversal) mengalami koreksi akibat aksi jual massal oleh investor.
"Sejauh ini, indeks saham gabungan kita berbalik melemah dan saat ini ditransaksikan di sekitaran level support psikologis 6.070. Pasar saham dan obligasi dalam negeri tampaknya sedang melakukan penyesuaian (pricing-in) terhadap risiko pembengkakan biaya impor dan subsidi energi yang berpotensi membebani APBN akibat lonjakan harga minyak mentah dunia tersebut," ucap Gunawan.
Selain instrumen saham dan mata uang, pasar komoditas pelindung nilai (safe haven) seperti emas juga dilaporkan mengalami konsolidasi dan ikut terkoreksi tipis akibat pergerakan dolar AS yang cenderung menguat (greenback supermile) di tingkat global.
Menurut Gunawan, situasi ini membutuhkan kesiapan otoritas moneter dan fiskal dalam negeri untuk menjaga kecukupan likuiditas valas di pasar domestik guna mengantisipasi tekanan yang lebih besar jika negosiasi antara AS dan Iran menemui jalan buntu. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Cek Harga Emas di Pegadaian Hari Ini, Naik Apa Turun?






















