Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Terobosan Pengobatan Kanker: Teknologi Molecular Jackhammer Mampu Hancurkan 99 Persen Sel Kanker

Mistar.idSelasa, 21 Juli 2026 pukul 05.30 WIB
terobosan_pengobatan_kanker_teknologi_molecular_jackhammer_mampu_hancurkan_99_persen_sel_kanker

Ilustrasi memeriksa perkembangan kanker (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID - Dunia medis kembali mencatat kemajuan penting dalam upaya melawan kanker. Para ilmuwan di Amerika Serikat mengembangkan teknologi baru bernama molecular jackhammer, sebuah mesin molekuler yang bekerja dengan cara menghancurkan sel kanker secara mekanis, bukan melalui reaksi kimia seperti kemoterapi.

Temuan ini membuka harapan baru bagi pengobatan kanker karena berpotensi memberikan terapi yang lebih presisi sekaligus mengurangi efek samping yang selama ini menjadi tantangan utama dalam penanganan penyakit tersebut.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Chemistry menunjukkan teknologi tersebut mampu menghancurkan sekitar 99 persen sel kanker pada pengujian di laboratorium. Sementara itu, uji praklinis pada tikus penderita melanoma memperlihatkan sekitar 50 persen hewan percobaan berhasil bebas dari kanker setelah menjalani terapi.

Cara Kerja Molecular Jackhammer

Selama puluhan tahun, pengobatan kanker mengandalkan tiga metode utama, yakni operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Ketiga metode tersebut telah menyelamatkan banyak pasien, tetapi masih memiliki kelemahan, mulai dari efek samping berat hingga munculnya resistensi terhadap obat.

Berbeda dengan pendekatan konvensional, molecular jackhammer tidak membunuh sel kanker menggunakan zat kimia. Teknologi ini bekerja seperti "palu" berukuran molekul yang merobek membran sel kanker secara fisik.

Tim peneliti memanfaatkan aminocyanine, molekul sintetis yang selama ini telah digunakan sebagai bahan pencitraan medis. Saat molekul tersebut disinari menggunakan cahaya inframerah dekat (near-infrared), elektron di dalamnya bergerak secara serempak dan menghasilkan getaran dengan kecepatan sekitar 40 triliun kali per detik.

Getaran sangat cepat tersebut membuat molekul menghantam membran sel kanker hingga robek. Setelah membran rusak, isi sel keluar dan sel kanker mati dalam waktu singkat.

Berpotensi Mengurangi Resistensi Kanker

Salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan kanker adalah kemampuan sel kanker beradaptasi sehingga menjadi kebal terhadap obat atau dikenal sebagai drug resistance.

Karena molecular jackhammer bekerja dengan menghancurkan sel secara mekanis, para peneliti meyakini peluang munculnya resistensi akan jauh lebih kecil dibanding terapi berbasis obat.

Pendekatan ini dinilai dapat menjadi alternatif baru, terutama bagi pasien yang tidak lagi merespons pengobatan konvensional.

Hasil Awal Sangat Menjanjikan

Penelitian dilakukan oleh kolaborasi ilmuwan dari Rice University, Texas A&M University, dan The University of Texas yang dipimpin Profesor James M. Tour bersama Dr. Ciceron Ayala-Orozco.

Selain berhasil menghancurkan hampir seluruh sel kanker pada kultur laboratorium, terapi ini juga menunjukkan hasil positif pada pengujian terhadap tikus penderita melanoma.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa keberhasilan pada hewan belum tentu memberikan hasil yang sama pada manusia sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Masih Menunggu Uji Klinis pada Manusia

Hingga kini molecular jackhammer masih berada pada tahap proof of concept atau pembuktian konsep. Sebelum dapat digunakan secara luas di rumah sakit, teknologi ini masih harus melewati berbagai tahapan, mulai dari pengujian keamanan, evaluasi toksisitas jangka panjang, hingga uji klinis pada manusia.

Penelitian lanjutan yang diterbitkan dalam jurnal Advanced Science juga mengembangkan berbagai variasi molecular jackhammer agar mampu menargetkan jenis kanker tertentu secara lebih spesifik dan meminimalkan risiko terhadap jaringan sehat.

Apabila seluruh tahapan penelitian berjalan sukses, molecular jackhammer berpotensi menjadi salah satu inovasi terbesar dalam terapi kanker dalam beberapa dekade terakhir. Teknologi ini tidak ditujukan untuk menggantikan operasi maupun kemoterapi, melainkan melengkapi pilihan terapi yang lebih presisi, minim invasif, dan berpotensi memberikan efek samping yang lebih ringan bagi pasien.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN