Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Kian Terpuruk ke Rp18.050 per Dolar AS dan IHSG Amblas

Mistar.idJumat, 5 Juni 2026 11.36
EH
AA
rupiah_kian_terpuruk_ke_rp18050_per_dolar_as_dan_ihsg_amblas

Pegawai mengamati pergerakan harga saham di galeri BEI. (Foto: Bisnis)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Awan hitam kembali menggelayuti pasar keuangan domestik pada sesi perdagangan akhir pekan. Kombinasi dari lonjakan harga energi global, memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, serta kecemasan investor terhadap peringkat utang luar negeri sukses membuat nilai tukar Rupiah kian terpuruk dan menjauhi level psikologisnya.

Berdasarkan data perdagangan di pasar spot pada Jumat (5/6/2026), mata uang rupiah ditransaksikan melemah ke posisi Rp18.050 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ambruknya kurs garuda ini berjalan selaras dengan rontoknya indeks bursa saham lokal yang sempat mencoba bangkit di zona hijau pada awal pembukaan.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan pasar finansial saat ini benar-benar sedang dihantui ketakutan akan ancaman inflasi berskala besar (hyperinflation risk).

Menurut Gunawan, fokus perhatian pelaku pasar global saat ini tersedot pada eskalasi militer terbaru di kawasan Timur Tengah.

Hubungan geopolitik dunia semakin memanas setelah militer Iran dilaporkan meluncurkan serangan balasan yang menyasar sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di negara tetangga Iran.

Sentimen negatif ini langsung memicu kepanikan massal di pasar komoditas energi, terutama minyak mentah dunia, yang harganya langsung melompat tinggi dan memicu kekhawatiran rembetan inflasi ke negara-negara importir minyak termasuk Indonesia.

"Pasar mulai mengeluhkan pergerakan harga energi. Minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) yang pada akhir Mei kemarin masih anteng bertahan di kisaran 86 Dolar AS per barel, belakangan ini dilaporkan melonjak drastis ke kisaran 93 Dolar AS per barel," kata Gunawan, Jumat (5/6/2026).

Menurut Gunawan, lonjakan ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi global akan bertahan lama, dan rembetannya otomatis menekan kinerja IHSG serta rupiah.

Sentimen buruk dari lonjakan harga minyak bumi dan rontoknya mayoritas bursa saham utama di kawasan Asia membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak bertenaga.

Padahal pada sesi pembukaan pagi, IHSG sempat menorehkan angin segar dengan dibuka menguat ke level 5.846.

Namun, penguatan tersebut terbukti tidak bertahan lama lantaran tekanan jual (selling pressure) yang masif langsung menyeret IHSG balik arah (reversal) ke zona merah.

"Saat ini IHSG kembali diperdagangkan melemah dan posisinya sudah berada di bawah level psikologis krusialnya, yakni di bawah level 5.800. Pelaku pasar cenderung mengamankan aset mereka ke instrumen yang lebih aman," ucap Gunawan.

Lebih lanjut, Gunawan memaparkan bahwa salah satu jangkar yang menahan minat beli investor asing di pasar modal dalam negeri adalah sikap kehati-hatian (wait and see) yang sangat tinggi menanti rapor kredit Indonesia.

Hingga saat ini, pelaku pasar masih terus berspekulasi dan cemas bahwa lembaga pemeringkat internasional terkemuka, Standard & Poor's (S&P), akan memangkas peringkat atau prospek utang luar negeri Indonesia, meskipun peringkat tersebut diproyeksikan akan tetap aman di dalam kategori layak investasi (investment grade).

Kombinasi tekanan eksternal dan internal ini dinilai Gunawan membutuhkan respon kebijakan intervensi taktis dari otoritas fiskal dan moneter guna meredam volatilitas kurs agar tidak semakin membebani biaya impor industri nasional. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN