Surplus Neraca Perdagangan Sumut Tembus 2,38 Miliar Dolar AS pada Awal 2026

Aktivitas kapal kargo internasional saat melakukan bongkar muat kontainer ekspor dan impor di Pelabuhan Belawan, Medan. (Foto: Pelindo)
Medan, MISTAR.ID
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat kinerja perdagangan luar negeri Sumut menunjukkan tren positif sepanjang Januari hingga April 2026. Tingginya nilai ekspor mendorong neraca perdagangan daerah ini mencatat surplus yang signifikan.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan akumulasi surplus neraca perdagangan luar negeri Sumut selama periode Januari–April 2026 mencapai 2.380,62 juta dolar AS atau sekitar 2,38 miliar dolar AS.
“Untuk April 2026 saja, neraca perdagangan Sumut mencatat surplus sebesar 685,23 juta dolar AS. Angka ini meningkat 60,61 persen dibandingkan surplus pada April 2025 yang sebesar 426,64 juta dolar AS,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Menurut Asim, capaian tersebut ditopang oleh peningkatan nilai ekspor yang cukup tinggi. Selama Januari hingga April 2026, nilai ekspor Sumut mencapai 4.241,33 juta dolar AS atau naik 12,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara tahunan, nilai ekspor pada April 2026 juga melonjak 46,29 persen, dari 869,97 juta dolar AS pada April 2025 menjadi 1.272,68 juta dolar AS.
Komoditas utama yang mendorong pertumbuhan ekspor berasal dari sektor industri pengolahan, terutama lemak dan minyak hewan atau nabati serta berbagai produk kimia.
“Sebaliknya, komoditas perkebunan seperti kopi, teh, rempah-rempah, dan karet mengalami penurunan ekspor terbesar selama periode ini,” kata Asim.
Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sumut, disusul Amerika Serikat dan India. Sementara berdasarkan kawasan, negara-negara Asia di luar ASEAN mendominasi pasar ekspor Sumut dengan kontribusi sebesar 39,60 persen.
Di sisi lain, nilai impor Sumut selama Januari hingga April 2026 tercatat sebesar 1.860,71 juta dolar AS berdasarkan nilai Cost, Insurance, and Freight (CIF).
“Nilai tersebut meningkat 8,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 1.718,19 juta dolar AS. Jika dibandingkan April tahun lalu, impor juga naik 32,51 persen,” ujarnya.
Berdasarkan kelompok penggunaan barang, impor barang konsumsi dan bahan baku atau penolong mengalami peningkatan. Sementara impor barang modal justru mengalami penurunan.
Dari sisi komoditas, penurunan impor terbesar terjadi pada kelompok bahan kimia anorganik serta mesin dan peralatan mekanik. Sebaliknya, impor bahan bakar mineral mencatat kenaikan tertinggi.
Untuk negara asal impor, Tiongkok menjadi pemasok terbesar bagi Sumut, diikuti Singapura dan Malaysia.
Meski secara keseluruhan mencatat surplus besar, neraca perdagangan Sumut dengan sejumlah negara mitra masih menunjukkan hasil yang beragam.
Surplus perdagangan terbesar diperoleh dari Amerika Serikat sebesar 470,49 juta dolar AS, disusul Tiongkok, India, Jepang, dan Bangladesh.
Sementara itu, defisit perdagangan terbesar terjadi dengan Singapura sebesar 250,36 juta dolar AS. Selain Singapura, Sumut juga mengalami defisit perdagangan dengan Malaysia, Argentina, Australia, dan Brasil akibat tingginya nilai impor dari negara-negara tersebut.
PREVIOUS ARTICLE
IHSG Anjlok 1,7%, BEI Tegaskan Fundamental Emiten dan Pasar Modal Indonesia Tetap Kuat





















