Rupiah Tembus Rp17.300, Pengamat: Biaya Impor Barang Modal dan Bahan Baku Industri akan Naik

Ilustrasi. (foto: kontan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda merosot tajam hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.300, dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026), Rupiah berakhir di level Rp17.280 per Dolar AS. Bahkan, sepanjang sesi perdagangan, Rupiah sempat menyentuh titik terendahnya di level Rp17.320 per Dolar AS.
Gunawan mengatakan, pelemahan ini merupakan dampak langsung dari memburuknya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas ekonomi dan jalur pasokan energi dunia.
"Rupiah tidak sendirian mengalami pelemahan. Sejumlah mata uang utama di Asia seperti Yuan China, Dolar Singapura, Yen Jepang, hingga Rupee India juga terpantau turun terhadap Dolar AS yang kini dianggap sebagai aset aman (safe haven)," kata Gunawan.
Kondisi mata uang yang limbung turut memukul kinerja pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dan ditutup pada level terendah selama sesi perdagangan berlangsung.
Penutupan IHSG melemah 2,16 persen di level 7.378,606. IHSG sempat menguat di sesi pembukaan hingga mencapai level tertinggi 7.582, namun berbalik arah secara drastis akibat sentimen negatif di bursa saham Asia dan pelemahan Rupiah.
Di sisi lain, komoditas emas dunia juga tidak luput dari gejolak. Harga emas dunia terpantau tertekan ke level 4.701 Dolar AS per ons troy, atau jika dikonversi ke rupiah berada di kisaran Rp2,62 juta per gram.
"Tekanan terhadap harga emas membesar seiring ketegangan yang memanas antara Iran dengan AS. Kabar mengenai AS yang terus memburu kapal minyak Iran di perairan Asia, serta langkah Iran mengontrol Selat Hormuz dan membatasi lalu lintas kapal, telah menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar komoditas," ucap Gunawan.
Pelemahan Rupiah hingga ke level Rp17.300 ini diprediksi akan berdampak pada kenaikan biaya impor barang modal dan bahan baku industri di Sumatera Utara.
Selain itu, inflasi dari barang-barang impor (imported inflation) berisiko menekan daya beli masyarakat dalam jangka pendek jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda.
Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan terus memantau dinamika pasar energi global, mengingat kendali Iran atas Selat Hormuz berpotensi besar memicu lonjakan harga energi yang akan memengaruhi struktur biaya logistik dan produksi secara nasional.
PREVIOUS ARTICLE
IHSG Anjlok ke Level 7.378 Usai 505 Saham TerkoreksiBERITA TERPOPULER
























