Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.983 per Dolar AS, Meski Masih Dibayangi Tekanan

Rupiah. (Foto: Pegadaian)
Jakarta, MISTAR.ID – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Senin (3/8/2026) dengan penguatan di pasar spot. Mata uang Garuda terapresiasi 39 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp17.983 per dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan tersebut melanjutkan tren positif pada akhir pekan lalu. Pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026), rupiah tercatat menguat 0,49 persen secara harian hingga berada di level Rp18.022 per dolar AS.
Di saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat (DXY), yang mengukur pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia, melemah 0,22 persen ke level 99,697 pada pukul 09.00 WIB.
Meski dibuka menguat, pergerakan rupiah sepanjang pekan ini diperkirakan masih menghadapi tekanan. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga mendekati kisaran Rp18.250-Rp18.300 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satu yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah neraca perdagangan Indonesia. Ia menilai neraca perdagangan pada Juni 2026 berpotensi mencatat defisit, yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
“Pasar akan melihat banyak data yang akan dirilis di Indonesia, terutama neraca perdagangan yang kemungkinan besar pada Juni akan mengalami defisit. Hal ini juga akan mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan,” ujar Ibrahim, Minggu (2/8/2026), dilansir dari Kompas.com.
Selain itu, laju inflasi Indonesia dipandang bakal melandai. Penurunan inflasi didorong oleh relatif turunnya harga sejumlah komoditas akibat intervensi pemerintah di pasar. Ibrahim memperkirakan tingkat inflasi akan berada di bawah 3,34 persen.
Faktor lain yang juga menjadi perhatian adalah data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia. PMI manufaktur berpotensi berada di bawah 50 atau tetap berada di zona kontraksi, meskipun diperkirakan lebih baik dibandingkan posisi sebelumnya di level 46,9.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan aktivitas industri manufaktur masih belum pulih sepenuhnya, yang turut berdampak terhadap pasar tenaga kerja.
“PMI manufaktur kemungkinan masih terkontraksi di bawah 50. Walaupun pada Juli diperkirakan berada di atas 46,9, tetapi masih menunjukkan kontraksi. Ini mengindikasikan kondisi tenaga kerja masih melemah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor,” paparnya.
Ibrahim juga memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan menurun dibandingkan posisi pada Juni 2026 yang sebesar 145,6 miliar dollar AS. Penurunan cadangan devisa membuat kemampuan pembiayaan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri hanya berada di kisaran 4,9 bulan. “Artinya, posisi tersebut masih berada di bawah standar yang umumnya digunakan untuk negara dengan peringkat utang BBB, yaitu sekitar lima bulan cadangan devisa,” tuturnya.
Di sisi lain, Ibrahim memperkirakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 juga akan kembali melemah. Ia menilai tren penurunan IKK sudah berlangsung sejak awal tahun. IKK yang pada Januari berada pada 129, terus menurun hingga mencapai 117,8 pada Juni 2026. Untuk Juli, Ibrahim memprediksi IKK kembali turun ke angka 116,6.
Baginya, rangkaian data ekonomi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) maupun Bank Indonesia (BI) pada minggu depan juga menjadi sentimen bagi arah pergerakan nilai tukar rupiah.
“Data-data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia pada pekan depan akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah,” kata Ibrahim. (Kompas)
PREVIOUS ARTICLE
Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia Berubah per Juli 2026BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER





















