Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Airlangga: Fluktuasi Itu Biasa

Rupiah dekati Rp18.000 per Dolar AS (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan dan bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah menyatakan terus memantau perkembangan nilai tukar di tengah volatilitas pasar keuangan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pelemahan rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar yang perlu terus dicermati.
"Ya kita lihat saja, kita monitor. Kan fluktuasi itu sesuatu yang biasa ya," kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (25/9/2026).
Rupiah Sempat Bergerak di Kisaran Rp17.900
Pada perdagangan Jumat pagi, rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp17.900 per dolar AS. Posisi tersebut membuat mata uang Garuda semakin dekat dengan ambang Rp18.000 per dolar AS.
Namun, berdasarkan data Refinitiv pada pukul 13.50 WIB, rupiah kembali menguat ke level Rp17.895 per dolar AS.
Meski demikian, Airlangga tidak menjelaskan lebih jauh mengenai kebijakan yang akan ditempuh pemerintah untuk merespons pergerakan rupiah. Ia hanya menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan nilai tukar.
Tekanan Rupiah Dipengaruhi Faktor Global dan Domestik
Pergerakan rupiah terjadi ketika volatilitas pasar keuangan global masih tinggi. Nilai tukar dapat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk pergerakan dolar AS, arus modal asing, serta sentimen terhadap kondisi dan prospek perekonomian global.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal maupun domestik.
Dari sisi global, salah satu tekanan berasal dari ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global dan prospek fiskal.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun hingga 5,11 persen.
Level tersebut disebut menjadi yang tertinggi sejak 2007.
"Perlemahan Rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal. Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, tertinggi sejak 2007," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Kamis (24/9/2026).
Konflik Timur Tengah Ikut Menekan Pasar
Ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah juga menjadi salah satu faktor yang membayangi pasar keuangan.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia. Harga minyak Brent bahkan kembali menembus level di atas US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak dapat menjadi perhatian bagi negara-negara yang membutuhkan impor energi karena berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing.
Kebutuhan Dolar Importir Meningkat
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang berakhirnya kuartal III.
Selain itu, terjadi arus keluar portofolio dari sejumlah aset negara berkembang atau emerging markets yang turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara tersebut.
Menghadapi kondisi tersebut, BI menegaskan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar bergerak sesuai dengan fundamental perekonomian.
Bank sentral juga memperkuat strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Strategi tersebut diarahkan untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang sekaligus memperkuat efektivitas kebijakan stabilisasi.
Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, kondisi domestik, serta respons kebijakan moneter dan pemerintah terhadap berbagai tekanan yang muncul.
PREVIOUS ARTICLE
Kredit Macet: Penyebab, Dampak, Cara Mengatasi, dan Cek SLIK OJK









































