Rupiah Melemah ke Rp17.935 per Dolar AS, Tertekan Kenaikan Yield Obligasi

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Liputan6)
Jakarta, MISTAR.ID - Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah pada awal perdagangan Jumat (25/9/2026). Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.935 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,11 persen atau 19 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.916 per dolar AS.
Dengan pelemahan tersebut, rupiah menjadi mata uang dengan penurunan terdalam di kawasan Asia pada awal perdagangan.
Hingga pukul 09.00 WIB, pergerakan mata uang Asia bervariasi terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat paling tinggi, yakni 0,59 persen, diikuti ringgit Malaysia 0,37 persen dan baht Thailand 0,19 persen.
Yen Jepang juga menguat 0,18 persen, sedangkan peso Filipina naik tipis 0,06 persen. Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,02 persen dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Jumat. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.910-Rp18.000 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari sentimen eksternal dan internal, terutama kenaikan harga minyak mentah.
“Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kondisi eksternal, terutama harga minyak mentah yang masih tinggi,” ujar Ibrahim, Kamis.
Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali mengalami reli. Harga Brent bahkan bertahan di atas 100 dolar AS per barel setelah kelompok Houthi kembali menyerang sejumlah wilayah di Arab Saudi pada Kamis.
Selain harga minyak, Ibrahim mencermati fenomena El Nino yang berpotensi meningkatkan gangguan terhadap produksi dan pasokan pangan. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan tekanan terhadap sejumlah indikator ekonomi Indonesia yang akan dirilis pada awal Oktober.
Ibrahim memperkirakan neraca perdagangan Indonesia yang sebelumnya mencatat surplus berpotensi kembali mengalami defisit pada Agustus 2026. Ia juga memperkirakan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 masih berada di zona kontraksi.
“Cadangan devisa kemungkinan menyusut akibat intervensi di pasar NDF, sedangkan indeks keyakinan konsumen kemungkinan turun dari Agustus,” katanya.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen selama tiga bulan berturut-turut. Kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi jeda sementara bagi tekanan terhadap rupiah.
Namun, risiko eksternal masih tinggi seiring kenaikan imbal hasil obligasi global, fluktuasi harga minyak dan ketegangan geopolitik.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat melonjak ke level 5,205 persen atau naik 1,74 persen. Kenaikan tersebut terjadi di tengah data aktivitas bisnis AS yang kuat serta berlanjutnya tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Kondisi tersebut berpotensi menopang penguatan dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ibrahim menilai Bank Indonesia perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten. (hm25/kompas.com)
NEXT ARTICLE
IHSG Dibuka Menguat 0,28 Persen ke Level 6.316









































