Pertamax Makin Mahal, Pengamat: Tekanan Ekonomi Masyarakat Kian Berat

Pengamat sosial Sumatera Utara (Sumut), Agus Suriadi. (Foto: Ari/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax (RON 92) mengalami penyesuaian harga sejak Rabu (10/6/2026), dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Kenaikan harga Pertamax menurut pengamat sosial Sumatera Utara (Sumut), Agus Suriadi, berdampak ke berbagai kehidupan masyarakat. Baik dari sisi ekonomi hingga sosial.
Salah satu dampak yang paling mungkin terjadi adalah perubahan pola konsumsi masyarakat. Pengguna Pertamax berpotensi beralih ke BBM subsidi guna menekan pengeluaran harian.
Kondisi ini dikhawatirkan akan meningkatkan permintaan terhadap BBM subsidi yang selama ini telah memiliki batasan kuota.
“Sebagian masyarakat kemungkinan akan mencari alternatif yang lebih murah, termasuk beralih ke BBM subsidi, menggunakan transportasi umum, atau memilih kendaraan yang lebih hemat bahan bakar,” ujarnya pada Mistar, Kamis (11/6/2026).
Selain itu, kenaikan harga Pertamax juga diperkirakan akan berdampak pada sektor ekonomi. Meningkatnya biaya operasional transportasi berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa. Efek berantai tersebut dapat memicu tekanan inflasi yang pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat.
Ia menjelaskan, meskipun Pertamax merupakan BBM non-subsidi, kenaikan harganya tetap memiliki pengaruh terhadap aktivitas ekonomi, terutama bagi pelaku usaha yang menggunakan kendaraan berbahan bakar Pertamax untuk mendukung operasional mereka.
Di sisi lain, kebijakan kenaikan harga BBM non-subsidi juga berpotensi memunculkan ketidakpuasan sosial. Menurutnya, masyarakat dapat mempertanyakan kebijakan tersebut apabila dianggap tidak sejalan dengan kondisi ekonomi yang sedang dihadapi.
“Ketika masyarakat merasa terbebani oleh kenaikan harga, muncul potensi protes maupun ketidakpuasan yang dapat memengaruhi stabilitas sosial,” kata Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut.
Dampak lainnya semakin lebarnya kesenjangan ekonomi antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan rendah. Kelompok berpenghasilan rendah lebih rentan berdampak karena biaya hidup semakin tinggi.
“Kebijakan kenaikan harga BBM turut memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintah. Apabila masyarakat menilai kebijakan tersebut kurang adil atau tidak disertai langkah mitigasi yang memadai, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah dapat mengalami penurunan,” ucapnya.
Untuk itu, ia berharap pemerintah dapat menyiapkan berbagai langkah antisipatif dan kebijakan pendukung untuk membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan harga energi.
“Secara umum, kenaikan harga Pertamax dapat menimbulkan dampak sosial yang cukup signifikan, mulai dari perubahan pola konsumsi hingga munculnya ketidakpuasan sosial. Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah mitigasi agar dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan,” tuturnya. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Penyaluran Bantuan Pangan di Parapat, Direktur Keuangan Bulog: Tidak Boleh Diperjualbelikan






















