Pertamax Tembus Rp16.650 per Liter, Pengamat: Kelas Menengah Paling Terpukul

Seorang petugas SPBU saat melakukan pengisian BBM jenis Pertamax ke dalam tangki kendaraan roda dua di SPBU Pertamina 14.201.115 yang berlokasi di Jalan Letjen Suprapto, Kecamatan Medan Maimun. (Foto: Amita/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) mulai Rabu (10/6/2026). Untuk wilayah Sumatera Utara (Sumut), harga Pertamax mengalami lonjakan cukup signifikan, dari yang sebelumnya Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter.
Kebijakan ini langsung memicu reaksi dari berbagai kalangan. Pengamat ekonomi dari Universitas Simalungun (USI), Dr. Darwin Damanik, menilai keputusan tersebut akan memberikan dampak berantai yang dirasakan langsung maupun tidak langsung oleh sejumlah kelompok masyarakat.
Menurut Darwin, kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak instan dari kebijakan ini adalah kelas menengah yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk mobilitas harian.
"Pemilik mobil pribadi yang secara spesifikasi mesin diwajibkan menggunakan RON 92 kini harus menghadapi kenyataan pahit. Kelompok ini mengalami lonjakan biaya transportasi harian yang sangat signifikan," ujar Darwin kepada Mistar, Kamis (11/6/2026).
Meskipun pemerintah tetap menahan harga Pertalite (RON 90) di angka Rp10.000 per liter, Darwin memperingatkan adanya efek domino yang bisa mengganggu masyarakat luas. Selisih harga yang semakin lebar berpotensi memicu migrasi besar-besaran konsumen Pertamax ke Pertalite.
Jika hal ini terjadi, dampaknya akan langsung terasa di lapangan, khususnya di daerah-daerah.
"Stok Pertalite di SPBU daerah, seperti di Pematangsiantar, berpotensi lebih cepat habis dan memicu antrean panjang. Jika kelangkaan atau hambatan distribusi sampai terjadi, taruhannya adalah biaya logistik barang pokok yang bisa ikut terkerek naik," jelasnya.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini setidaknya dipicu oleh dua faktor makroekonomi utama, yaitu lonjakan harga minyak mentah dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah.
Ketegangan geopolitik global yang kembali meningkat pekan ini, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah antara Israel dan Iran, membuat pasokan minyak mentah dunia terganggu. Menipisnya pasokan global otomatis mendorong kenaikan harga minyak internasional.
"Indonesia membeli minyak mentah menggunakan dolar AS. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar, biaya yang harus dikeluarkan Pertamina untuk mengimpor bahan baku BBM membengkak, sehingga penyesuaian harga di tingkat ritel tidak dapat dihindari," ucapnya.
Menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat, masyarakat dituntut untuk lebih taktis dan adaptif dalam mengelola keuangan rumah tangga. Darwin membagikan beberapa langkah yang bisa dilakukan, seperti:
* Sesuaikan konsumsi BBM. Jika anggaran sangat mendesak, beralih ke Pertalite untuk sementara waktu bisa menjadi pilihan darurat, sepanjang mesin kendaraan masih menoleransinya.
* Siasati waktu pengisian. Untuk menghindari antrean panjang akibat migrasi konsumsi, lakukan pengisian BBM pada waktu-waktu luang atau di luar jam sibuk.
*Terapkan skala prioritas keuangan. Tunda pengeluaran tersier seperti hiburan atau kebutuhan yang tidak mendesak. Alokasikan dana untuk kebutuhan primer seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan. (hm25)























